Kamis, 27 Agustus 2009

Tembakau Citra Popularitas Kota Medan Dimata Dunia

Tembakau” Citra Popularitas Kota Medan di Mata Dunia "

Tidaklah terlalu berlebihan bila penulis katakan bahwa kota Medan yang dulunya disebut Deli telah melangkah jauh menapaki ruang perubahan menuju peradaban kota yang modern, religius dan madani. Tulisan ini setidaknya mengajak warga kota Medan membuka ruang diskusi atas fenomena yang terjadi di kota bersejarah ini bahwa daerah ini pernah menjadi buah bibir populasi dunia karena kualitas cita rasa tembakaunya. Artinya, kualitas tembakau yang berhasil menembus pasar perdagangan dunia merupakan citra popularitas kota ini di belahan dunia.
Seiring guliran perputaran waktu melalui derap perputaran roda pembangunan, kota Medan yang dulunya masih dikelilingi kawasan perkebunan tembakau, kini telah merubah tatanan wajahnya seperti kota yang tidak pernah “tidur” dari pembangunan. Sekalipun tulisan ini sedikit bernostalgia atas kebesaran Tanah Deli yang pernah merajai pedagangan tembakau di mata dunia, tetapi kita harus menyadari bahwa kota kita ini harus tetap dijaga popularitasnya.

Asal-Usul Medan & Tembakaunya
Secara geografis kota Medan berada pada posisi 3° 30’- 3° 43’ lintang utara dan 98° 35’- 98° 44; bujur timur dengan permukaan tanah cendrung miring ke utara dan tepatnya berada pada ketinggian 2,5 – 37,5 m di atas permukaan laut. Luas kota Medan yang berjumlah ± 265,10 km2 berbatasan dengan Selat Malaka di sebelah utara, sedangkan di sebelah barat, selatan dan timur berbatasan dengan Kabupaten Deli Serdang. Jumlah populasi penduduk kota Medan pada sensus terakhir tahun 2005 saat ini mencapai ± 2.036.018 jiwa yang di dominasi beberapa suku seperti Melayu, Jawa, Batak, Mandailing, Tionghoa, Minang dan suku lainnya.
Secara histories, sekitar tahun 1918 tercatat penduduk yang menghuni kota Medan 43.826 jiwa dengan klasifikasi jumlah 35.009 orang berketurunan Indonesia, 8.269 orang keturunan Tionghoa, 409 orang bangsa Eropa dan 139 lainnya berasal dari ras Timur lainnya. Bermula dari sebuah perkampungan yang disinggung dalam literatur sejarah bernama Kampung Medan Putri, kota ini didirikan oleh Guru Patimpus seorang putra Karo bermarga Sembiring Pelawi sekitar tahun 1950-an. Guru Patimpus adalah seorang tabib yang tersohor memiliki kepandaian menyembuhkan segala macam penyakit. Sebagai seorang tabib, beliau sering dimohonkan bantuannya menyembuhkan berbagai jenis penyakit yang di derita seseorang. Ketinggian ilmunya khusus dalam hal pengobatan justru membuat dirinya tetap merendahkan diri terus menolong orang lain. Kebiasaan beliau hampir setiap hari berjalan dengan membawa bekal obat-obatan dimasukkan ke dalam kain diselempangkan di badan.
Sekitar tahun 1860-an ketika Kampung Medan masih dalam jajahan Belanda, Kampung Medan dahulunya masih bernama Deli atau sering disebut Tanah Deli. Lokasi Kampung Medan tepat berada di antara dua pertemuan Sungai Deli dengan Sungai Babura.
Para pakar dan ahli sejarah di beberapa literature berkaitan dengan Historical of Medan City beragam menjelaskan tentang asal-usul kota Medan. Darwin Prinst SH ; 2002 dalam Kamus Karo-Indonesia menerangkan bahwa kota Medan berarti menjadi sehat ataupun lebih baik. Dasar penulisan Darwin adalah kronologis sejarah yang dilekatkan dengan kebesaran nama Guru Patimpus seorang tabib yang memiliki keahlian dalam pengobatan tradisional Karo pada masanya. Menurutnya kota Medan pertama sekali ditempati orang Suku Karo yang terletak antara pertemuan Sungai Deli dan Sungai Babura yang dirintis Guru Patimpus sekitar tahun 1950-an.
Seorang penulis bangsa Portugis di awal abad ke-16 Masehi mencatat bahwa kota Medan berasal dari nama Medina atau dalam bahasa India Meiden. Adapula yang memberi asal-usul nama kota ini dari bahasa Arab dengan sebutan Median yang berarti datar atau rata. Memang kenyataannya kondisi kontur tanah yang rata kelihatan jelas dimulai dari pantai Belawan hingga ke Pancur batu yang kelihatannya seperti hamparan tanah yang datar.
Jhon Anderson seorang pegawai Kerajaan Inggris dari Penang dalam lawatannya ke daerah ini tahun 1823 menemukan kota Medan masih merupakan sebuah kampung kecil dengan kepadatan penduduk berkisar 200 orang saja. Sejak Belanda menguasai Tanah Deli melalui expansi politiknya tahun 1858 berhasil meraih seluruh daerah territorial Sultan Ismail penguasa Kerajaan Siak Sri Indrapura di sekitar wilayah Deli, Langkat dan Serdang.
Udaranya yang sejuk dan asri ditambah lagi suburnya bumi Deli, mendorong pemerintah kolonialis untuk membuka lahan perkebunan tembakau dengan terlebih dahulu membebaskan sejumlah luas area lahan tanah milik warga pribumi.
Berawal dari ajakan saudagar Arab yang menetap di Surabaya bernama Said Abdullah Bilsagih yang juga masih garis keluarga saudara ipar dari Sultan Deli Mahmud Perkasa Alam Deli, seorang pengusaha kebangsaan Belanda bernama Jacob Nienhuys datang ke Tanah Deli membuka lahan perkebunan dengan menanam budidaya tembakau. Nienhuys yang awalnya membuka lahan perkebunan tembakau di Jawa sangat tertarik dengan potensi sumber daya alam Tanah Deli yang subur. Tepatnya di bulan Maret tahun 1864 melalui dukungan pemerintahan Belanda, Nienhuys membuka perkebunan tembakau di atas tanah milik Sultan Deli seluas 4000 Ha di Tanjung Spassi dekat Labuhan.
Ketika panen pertama, Nienhuys mengirim sample tambakau hasil kebunnya ke Rotterdam Belanda untuk di uji kualitasnya. Hasil uji laboratorium menujukkan hasil bahwa kualitas tembakau Deli memiliki mutu kualitas tinggi dengan cita rasa cerutu terbaik.
Tingginya permintaan pasar berdampak melambungnya nilai profit penjualan tembakau Deli bagi bangsa Eropa, mendorong pemerintah Belanda membangun kesepakatan kerjasama dengan Sultan Deli pada tahun 1865. Hanya dalam kurun waktu 24 bulan saja tepatnya tahun 1867 Nienhuys bersama rekan bisnisnya Jannsen, P.W. Clemen, dan Cremer mendirikan perusahaan De Deli Maatschappij yang disingkat Deli Mij di Labuhan. Aktifitas yang cukup tinggi dengan permintaan tembakau untuk kebutuhan bangsa di dunia meningkat, Nienhuys memindahkan kantor Deli Mij dari Labuhan ke Kampung Medan (sekarang kantor PTPN II ex PTPN IX).
Sejak beroperasinya kantor di Kampung Medan, hasil tembakau Deli semakin melejit sehingga membuat mata dunia tertuju pada tembakau Deli. Tanah Deli menjadi buah bibir bangsa dunia terutama kualitas tembakaunya dan membuat Deli menjadi salah satu pusat perdagangan termasyhur di dunia. Karena kemasyhurannya, Tanah Deli mendapat julukan het dollar land alias tanah uang oleh bangsa-bangsa di dunia khususnya Eropa. Pesatnya pertumbuhan perdagangan di Kampung Medan mendorong Nienhuys dengan rekannya membuka lahan baru dengan jenis tanaman yang sama di daerah Martubung, Sunggal dan Klumpang Hamparan Perak sekitar tahun 1869 -1875.
Kampung Medan saat ini penuh dengan aktifitas perdagangan yang ramai dikunjungi berbagai bangsa asing. Kesultanan Deli akhirnya memindahkan pusat pemerintahan sejalan dengan selesainya pembangunan Istana Maimun tanggal 18 Mei 1891, melalui Sultan Makmun Al Rasyid Perkasa Alamsyah memindahkan istananya dari Kampung Bahari Labuhan ke Kampung Medan. Kampung Medan menjadi pusat pemerintahan dan perdagangan dunia yang kian pesat. Atas dasar ini pula, tepatnya tahun 1907 berdirilah sebuah lembaga perbankan di Medan yaitu De Javasche Bank (kini Bank Indonesia). Berawal dari sini pula tepatnya tahun 1915, Medan secara resmi menjadi ibu kota provinsi Sumatera Utara dan tahun 1918 resmi pula menjadi Kotapraja.
Ketika bala tentara Jepang berhasil menguasai wilayah jajahan Belanda, dampak expansi politik ini kuat sekali pengaruhnya terhadap maju mundurnya perekonomian rakyat Deli. Jepang yang masuk melalui pelabuhan Tanjung Tiram tahun 1942 meluluh lantahkan kekuatan bala tentara Belanda yang saat itu sangat kuat berkuasa. Luluh lantahnya juga berbias tajam terhadap situasi ekonomi rakyat yang semakin carut-marut. Perekonomian rakyat yang makmur dan sejahtera berakhir dengan kehancuran dieksploitasi oleh pemerintah Jepang. Hingga kini sekalipun bangsa Indonesia telah merdeka dari penjajahan bangsa Belanda dan Jepang, tembakau Deli yang merajai pusat lelang tembakau dunia di Bremen Jerman, kini tidak terdengar lagi keharumannya.
Wajah Kota Medan Kini
Wajah Kota Medan kini sejak dipimpin Walikota Abdillah selama dua masa periode hidup dalam kondisi yang tertib, rukun dan damai. Keaneka ragaman etnis di Medan hidup rukun berdampingan yang tersebar di 151 kelurahan yang keseluruhannya berada di wilayah 21 kecamatan yakni ; Medan Tuntungan, Medan Johor, Medan Amplas, Medan Denai, Medan Area, Medan Kota, Medan Maimun, Medan Polonia, Medan baru, Medan Selayang, Medan Sunggal, Medan Helvetia, Medan Petisah, Medan Barat, Medan Timur, Medan Perjuangan, Medan Tembung, Medan Deli, Medan Labuhan, Medan Marelan dan Medan Belawan. Dari seluruh kecamatan tersebut, kota Medan juga dikelilingi 8 sungai yang melintasi kota diantaranya Sungai Belawan, Sungai Badra, Sungai Sikambing, Sungai Pulih, Sungai Babura, Sungai Deli, Sungai Sulang-Saling dan Sungai Kera.
Laju pertumbuhan pembangunan kota juga menunjukkan grafik yang produktif dan meningkat. Berbagai gedung mencakar langit yang dijadikan sebagai basis pusat kegiatan perkantoran, bisnis, perhotelan, pendidikan dan lokasi pusat hiburan cukup meramaikan dinamika laju pertumbuhan perekonomian warga kota Medan. Sejumlah bangunan yang telah berdiri seperti Brastagi Plaza (sebelumnya dikenal dengan sebutan Mall The Club Store atau PriceSmart), Deli Plaza, Sinar Plaza, Menara Plaza, Grand Palladium, Hongkong Plaza, Macan Group, Plaza Medan Fair, Medan Mall, Medan Plaza, Millenium Plaza, Perisai Plaza, Sun Plaza, Thamrin Plaza, Yuki Pasar Raya, Suki Simpang Raya, Yanglim Plaza dan Olimpia Plaza.
Namun demikian, sejumlah bangunan yang menjadi bagian situs sejarah tetap saja dipertahankan eksistensi kesejarahannya seperti Gedung Balai Kota lama, Kantor Pos Medan, Menara Air Tirtanadi, Titi Gantung (jembatan di atas rel ketera api), Istana Maimun, Mesjid Raya Medan, rumah Tjong A Fie di Kesawan, gedung PT. London Sumatera dan sejumlah ruko-ruko tua yang bernilai sejarah.
Sejumlah pasar yang menjadi karakteristik pertumbuhan ekonomi kota Medan saat ini juga masih beroperasi seperti Pusat Pasar (salah satu pasar tradisional tertua di Medan yang sudah ada beroperasi sejak zaman colonial), Pasar Petisah, Pasar Beruang, Pasar Simpang Limun dan pasar lainnya.
Tingginya volume pertumbuhan ekonomi kota juga diimbanginya bertambahnya volume kenderaan sebagai bentuk jenis angkutan dalam menjalankan roda perdagangan. Berbagai jenis kenderaan mulai dari produk dalam dan luar negeri merajai setiap lintasan juga ditemukan di kota ini. Sekalipun demikian, keunikan kota Medan yang telah tumbuh menjadi kota Metropolitan, jenis keunikan kenderaan Becak Bermotor juga masih cukup banyak ditemukan dijalanan. Sikap pemerintah kota yang mempertahankan kenderaan bersejarah ini dinilai cukup positif sekalipun telah dilakukan penataan bentuk yang lebih proporsional dan penentuan trayek yang disesuai dengan wajah area pembangunan kota.
Kita menyadari laju pertumbuhan volume kenderaan yang cukup signifikan juga berbias pada bentuk akumulasi kemacetan lalu lintas yang menjadi bagian dari agenda penataan wajah kota. Dengan kerja keras dan dibantu semua pihak, hal ini telah banyak dilakukan dengan melakukan penataan yang proporsional dan professional dari setiap petugas Polisi Lalu Lintas Poltabes Medan Sekitarnya bersama Dinas Perhubungan Kota Medan. Kerjasama ini menjadi semangat bersama sebagaimana motto Pemerintah Kota yang dipimpin Walikota Abdillah yakni Bekerjasama dan Sama-sama Bekerja Menuju Medan Kota Metropolitan Yang Modern, Religius dan Madani.
Kota Medan juga telah memiliki sarana jalan tol Belmera yang menghubungkan antara Medan, Belawan dan Tanjung Morawa. Jalan tol Belmera adalah lintasan bebas hambatan guna memperkecil jarak tempuh pengendara yang datang dari luar kota menuju Pelabuhan Belawan yang terletak sekitar 20 KM di utara kota. Selain itu, juga mempercepat waktu perjalanan menuju inti kota khususnya bagi pengguna jalan raya menuju Bandara Internasional Polonia yang menghubungkan Medan dengan kota-kota di belahan dunia. Selain itu, pengangkutan alternatif lain juga ditemukan khususnya bagi penumpang kereta api yang telah dibukanya trayek kota Medan menuju Tanjung Pura, Belawan, Binjai, Tebing Tinggi, Pematang Siantar, Kisaran dan Rantau Prapat.
Dalam mendorong kerjasama internasional khusus dalan bidang ekonomi, sosial dan pendidikan, kota Medan ikut menggagas pembentukan Persatuan Kota Kembar dengan negara tetangga seperti Penang Malaysia, Ichikawa Jepang, Kwangju Korea Selatan dan Chengdu Republik Rakyat Tiongkok. Jalinan kerjasama sampai saat ini terus terjalin bahkan terus berkembang ke arah kerjasama pembentukan sumber daya manusia yang terampil dan professional khususnya melalui magang/pelatihan serta pertukaran antar pelajar serta melakukan tukar informasi melalui program pameran perdagangan di antara kedua belah pihak.
Menariknya lagi, guna menyuguhkan berbagai rangkaian aneka informasi dan hiburan dalam dan luar negeri, pemerintah kota Medan bersama elemen pengusaha telah membuka akses telekomunikasi dengan menggunakan kecanggihan teknologi modern. Kota Medan telah memiliki 5 stasiun televisi yakni TVRI Medan, Deli TV, Space Toon, DAAI TV dan Bahana TV (telah mengudara masa percobaan.). Selain stasiun televise lokal, seluruh staisun TV swasta nasional telah pula memiliki korespondensi yang menjadi biro di kota Medan sehingga system informasi yang dibutuhkan dalam kerangka percepatan pembangunan kota telah banyak membantu pertumbuhan ekonomi kota Medan.
Kini kota yang kita cintai ini telah tumbuh menjadi sebuah kota yang terus berbenah menata perekonomiannya. Sekalipun kota ini telah tumbuh menjadi kota yang modren, tetapi cerita kota ini tidaklah seindah citranya ketika dunia terguncang oleh kehebatan produktifitas dan kualitas tembakaunya. Mari kita jaga dan bangkitkan citra kota Medan menuju peradaban kota yang Modern, Religius, Madani dan Disiplin agar popularitas kota ini tetap diperhitungkan di mata populasi dunia


Medan, Maret 2008
P E N U L I S

Drs. Safwan Khayat. M.Hum

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar