Innalillahi wa Inna Ilaihi Roji’un
Selamat Jalan Sahabat Ku !!
Pagi itu sang surya menghembuskan kehangatan tubuhnya menyinari bumi dengan terang benderang. Ku lihat dengan jelas tak ada tanda-tanda gumpalan awan hitam dan hembusan angin yang bakal mengundang hujan, dan ku pastikan pula bahwa hari ini adalah hari yang cerah dan menyenangkan.
Hari itu adalah hari pertama ku bertugas resmi menduduki jabatan baru sebagai Kepala Seksi Sarana Angkutan (Kasi Sarang) Direktorat Lalu Lintas (Ditlantas) Kepolisian Daerah Sumatera Utara. Aku kembali ditugaskan di Medan setelah 15 bulan aku “nongkrong” di Pematang Siantar menjabat Wakapolresta. Saat itu kami sedang rapat bersama pimpinan mendiskusikan situasi lalu lintas yang berkaitan dengan harapan, kenyataan dan tantangan. Tak sedetik pun tersisa, kami manfaatkan ruang diskusi dengan uraian analisis dan modus pemecahan masalah agar situasi lalu lintas di Sumatera Utara berjalan tertib, aman, dan lancar.
Diskusi pun terhenti sementara di saat suara azan bergema memanggil nurani kami untuk beranjak duduk menuju Mesjid berdiri megah di kantor ku. Aku basuhi tubuh ini dengan air wudhuk agar fikiran ku basah dengan gagasan, ku takbirkan kebesaran Ilahi dengan shalat agar hati ini dijauhi dari nafsu dengki. Munajat doa tetap ku sampaikan agar sang Khaliq selalu meridhoi aktifitas ku dan cerahnya masa depan Negara ku.
Selepas itu, aku dan teman-teman kembali ke ruang diskusi guna melanjutkan agenda yang tadinya tertunda. Berselang 15 menit kemudian tepatnya pukul 13.45 WIB, telepon seluler ku bergetar dengan menuliskan pesan singkat yang ku nilai hanyalah buwalan, bongak atau iseng belaka. Isi pesan singkat tertulis ; “Innalillahi wa Inna Illaihi Roji’un, Azis Angkat Ketua DPRD SU tewas dikeroyok demonstran massa Protap”.
Awalnya pesan singkat itu tak ku gubris, tapi terhitung 2 menit berikutnya pesan singkat itu datang lagi dari nomor berbeda dengan tulisan : bang Safwan, kawan abang Ketua DPRD SU Azis Angkat tewas dibantai massa Protap”. Aku mulai ragu, goyah dan ingin cari tahu kebenarannya. Tapi ada daya ku, sebab aku masih harus mengikuti seluruh agenda diskusi yang sedang berjalan di kantor ku. Tangan ku pun gatal bermain SMS mengejar informasi tadi guna mencari tahu kepada rekan sejawat dari kalangan wartawan yang bertugas di DPRD SU. Ternyata jawabannya, “betul bang Safwan, sahabat abang telah berpulang kepangkuan-Nya”.
Pesan singkat yang terakhir sontak membuat tubuh ku lemas, keringat dingin mengucur deras, fikiran ku kacau, emosi ku memuncak dan perasaan semakin tak menentu. Ingin ku tinggalkan rapat demi mengejar pembaringan terakhir sahabat terbaik ku itu. Andaikan aku disampingnya, tubuhnya pasti kulindungi dari ganasnya demonstran yang tak berprikemanusiaan itu.
Ku akui, berita itu telah merenyuhkan hati ku. Aku kehilangan sahabat yang santun, teguh pendirian dan loyal berteman. Aku tak percaya kalau nasib sahabat ku begitu tragis melayang ajalnya oleh kesadisan massa demonstran. Aku marah dan benci kepada mereka yang begitu tega menghakiminya dengan kekerasan, penganiayaan dan pembunuhan.
Masih jelas suaranya di saat beliau menanyakan kabar keadaan ku. Sulit ku lupa tatkala nasehatnya yang selalu melingkari fikiran ku. Masih segar dalam ingatan ketika dia mengatakan jadilah seorang polisi yang dekat dengan masyarakat. Semua itu menjadi kenangan yang tak mungkin terlupakan.
Jika ku turuti emosi ini, ingin remukkan orang-orang yang berhati sadis yang telah merenggut nyawa sabahat ku. Aku tak rela sahabat ku tewas mengenaskan. Aku tak ikhlas sahabat ku ternaiaya hanya karena nafsu serakah, syahwat politik dan syahwat kekuasaan yang tidak dilandasi nilai kemanusiaan. Pemaksaan kehendak dengan sikap anarkis apalagi dengan merencanakan menghilangkan nyawa orang merupakan perilaku yang naïf, sadis, brutal dan zalim.
Dalam takziah aku berdoa; Ya Allah, ampunkan kesalahannya, terimalah amal kebajikannya, tempatkanlah ia di sisi Mu dengan keridhaan Mu. Ya Allah, kuatkan hati kami untuk menerima kenyataan ini, lapangkan fikiran kami untuk menebus segala kelemahan ini, dan teguhkan hati kami untuk menjaga keutuhan persaudaraan ini”.
Walau terasa pahit tapi aku harus terima kenyataan ini. Ku pasrahkan semua ini kehadirat Ilahi agar orang yang zalim itu mendapatkan ganjaran yang setimpal. Ku serahkan kepada hukum, agar keadilan ditegakkan dengan menjatuhkan hukuman yang setimpal pula.
Kepada keluarga yang di tinggal pergi, memang berat rasanya mengarungi kehidupan ini tanpa didamping orang yang selalu kita kasihi ,dan selalu mengasihi kita namun Tuhan sudah mengatur jalan kehidupan umat ini dan ia lebih mengetahui segala yang direncannakanNya. Aku yakin sahabatku almarhum pasti sudah membekali keluarganya tentang kesabaran dan menerima keadaan.
Harapanku kepada anak anak dari sahabatku, teruslah berjuang mengejar cita-citamu sesuai harapan dari almarhum. jangan pernah berhenti walaupun perjuangan almarhum sudah terhenti, nafasilah perjuanganmu dengan semangat hidup yang tinggi, semoga apa yang menjadi harapan dari almarhum terwujud.
Aku yakin perasaan ini sama dengan sahabat almarhum yang lain. Tetapi kita adalah menganut azas Negara hukum (praduga tidak bersalah) junjung tinggi hukum demi penegakkan keadilan . Kita percayakan institusi hukum mengusut tuntas kasus ini agar massa anarkis itu dijerat dengan hukum pula.
Aku berpesan kepada sahabat-sahabat semua, sekalipun berat tapi jangan kita turuti emosi diri. Jangan paksakan kehendak dengan curahan luapan emosi yang mengkerdilkan fikiran. Luapilah aspirasi dengan cara budaya bangsa yang santun, tertib, rasional dan manusiawi. Jangan ada lagi kekerasan, penistaan dan pengrusakan. Kau mau aku pun mau, tetapi mau itu lakukan sesuai dengan kemauan kita semua. Semoga kita belajar dari keadaan ini. Amiin yaa rabbal alamin !!
Medan, 11 Februari 2009
Drs Safwan Khayat M.Hum
Penulis, Alumnus SMAN Neg I Medan dan Dosen UMA, Alumnus Pascasarjana USU. Email; safwankhayat@yahoo.com
Kamis, 27 Agustus 2009
Aku Bukan Pejabat, Tapi Seorang Sahabat
Aku Bukan Pejabat,
Tapi Seorang
Sahabat
Kado Kenangan Buat Siantar Ku
Matahari terbit di ufuk timur menyinari bumi yang berputar seiring tanpa melalaikan sedetik pun rotasi jarum waktu. Sebuah kata pujian terucap rasa syukur kepada Sang Pencipta yang telah membentangkan hamparan bumi dengan gunung tinggi sebagai tiangnya, sungai dan laut sebagai penyuburnya dan daratan yang luas dengan segala isi ciptaan-Nya. Semua ini terjadi atas Kuasa-Nya yang setiap hari kita rasakan dan jalani selaras dengan denyut nadi, jantung dan jam kehidupan. Karunia-Nya tak akan bisa kita bayar kecuali wujud penghambaan diri kepada-Nya dengan sadar, tulus, ikhlas dan rendah diri.
Semua ini dilalui tanpa terasa 15 bulan sudah aku jejakkan tapak kaki ini di sebuah kota tempat aku mengabdi kepada Negara sebagai penegak hukum, pengayom dan pengabdi masyarakat. Di kota itu, berjuta pengalaman, kenangan dan cita berpadu dalam sebuah memoriam betapa diri ini telah menyatu dalam rajutan persahabatan. Tatkala ku alurkan fikiran ini, mereka merespon ku. Tatkala ku langkahkan kaki ini, mereka menyambut ku. Manakala ku lepaskan seluruh eksistensi ku, mereka menyapa ku dengan sapaan sahabat. Tak ku hitung berapa sudah waktu, fikiran dan tenaga yang teruai, sebab semua itu sangatlah tidak pantas untuk di hitung. Tetapi berjuta kenangan nyaris terhitung bersama warga, karena kenangan inilah yang pantas ku hitung.
Oh Siantar ku !! Darah yang setitik, rambut setiap helai, jantung yang berdetak dan dengusan nafas kehidupan menemani ku dalam suka, duka, durja dan canda tawa. Walau aku jauh dari keluarga ku, tapi Siantar ku selalu menemani tugas ku. Kau lah sahabat ku, mitra kerja ku, saudara ku, guru ku dan inspirasi ku.
Walau aku pernah menyapa mu dalam tugas waktu dulu (saat itu Kaur Regiden Satlantas Polres Simalungun 1999 – 2002) tapi tatkala aku kembali ditugaskan di tahun 2007-2008 (Wakapolresta P Siantar) kau telah menyentuh kalbu ku. Kau ajak aku pada pagi yang menggairahkan dengan dinamika Siantar, tapi kau hembuskan angin malam dengan kesejukan dan keakraban. Kita melebur menjadi satu kekuatan yang memberangus kehampaan dan kepura-puraan karena kita landasi dengan niat keikhlasan.
Siantar bagaikan Medan kota kelahiran ku tempat berkumpul keluarga, sahabat, guru dan siapa saja. Sulit aku bedakan walau akhirnya aku harus jujur membedakannya, bahwa Siantar adalah Siantar, Medan ya tetap Medan .
Ku sadari, fikiran ku kacau ketika ku paksakan diri ini berpisah dari mu. Jantung ku lemah dengan denyut nadi yang tak normal, sebab aliran darah persahabatan kini teruji dipisah oleh ruang dan waktu. Kaki ku gemulai meninggalkan kenangan Siantar yang telah kita rajut bersama-sama. Dada ku sesak, bibir bergetar berat seiring dengan geraian air mata yang mulai menumpuk di dua bola kornea mata ku. Tubuh besar ku gemetar bagai kehilangan energi hidup yang mengiris-iris seluruh persendian anatomi ku. Dalam bathin ini aku menangis sembari ku sisipkan doa ;
“Ya Tuhan, aku bersyukur atas anugrah dan karunia Mu, ku tundukkan kepala ku hanya semata menyembah Mu. Ku tengadahkan tangan ku hanya semata bermunajat atas keridhaan Mu. Ku geraikan persaaan ku, karena kepada Mu lah tempat ku mengadu”.
“Ya Tuhan, aku hina karena Engkau Penguasa. Aku bukan penguasa, sebab aku manusia durja di mata Mu. Aku bukan pejabat, tapi aku sahabat mereka. Aku adalah mereka, sebab mereka adalah aku. Jangan kau cabut ridho Mu, sebab aku terus merindukan ridho Mu”.
Masih ku ingat bekas piring sarapan pagi ku di warung Kok Tung, gelas air minum ku di warung pinggiran yang ditaburi abu jalanan, kolam pancing tempat ku berdialog dengan alam dan tempat mejeng ku bersama teman-teman Bikers Mitra Polri (BMP) dengan sepeda motor butut tua merk Honda C-90 rakitan tahun 1970-an.
Sulit ku lupa “tamparan” kritis sahabat ku yang mereka tuliskan melalui tinta pena jurnalisme. Mereka “dor” aku dengan senapan jurnalisnya, mereka tampilkan foto ku bagaikan aku seorang bintang Hollywood kelahiran Anak Medan. Mereka tulis prestasi institusi ku dengan jiwa persahabatan dan keikhlasan. Mereka protes aku dengan suaranya yang kritis, sok tahu dan sedikit lantam tapi aku suka.
Renyuh hati bila ingat saat aku nyantri bersama warga dan sahabat ku di sebuah pesantren yang mengajarkan kesederhanaan, kejujuran dan keikhlasan. Sungguh sebuah tampilan hidup yang menggambarkan kehidupan surgawi yang diajarkan guru ku pimpinan pesantren Darussalam KH Muhammad Bakri LC (yang akrab kami sapa Abun). Ulama kharismatik ini memiliki stereotype yang rendah hati, bersahaja, wara’, berani dan cerdas. Dada ku basah karena disirami kalimah zikir yang diajarkannya, otak ku encer dibaluti rentetan pertimbangan yang rasional darinya. Begitulah Abun ku hormati yang selalu menasehati kata hikmah menghujam persis tepat ke sanubari ku.
Masih teramat banyak bila ku uraikan jutaan kenangan Siantar ku. Tinta pena ini pastilah tidak cukup bila seluruhnya tumpah dalam gundah ku. Tetapi ku yakini bahwa setiap huruf yang keluar dari bibir pena tersimpan cerita indah yang ku simpul dalam resapan hati ku ini.
Jujur saja, hati berat menerimanya, tetapi aku harus tunduk dan patuh kepada Negara. Sebab Negara adalah milik kita, harapan dan masa depan kita. Kota tidak memisahkan persahabatan kita, sebab kota hanya memisahkan ruang dan waktu saja. Aku harus memenuhi tugas baru yang dipercayakan Negara kepada ku. Aku kembali ke kota kelahiran ku demi memenuhi rasa abdi ku kepada Negara. Bila jembatan hati ini terus terajut maka kita dapat menembus ruang dan waktu yang terpisah ini. Jembatan hati yang kita rajut bagaikan anyaman kain dipintal dengan jutaan helai benang. Semakin dirajut semakin kuat, padat dan indah, apalagi di hiasi dengan sentuhan persahabatan dengan corak warna kelembutan fikir dan zikir.
Siantar ku !! Tetaplah kita berfikir melahirkan inovasi yang berguna bagi peradaban kota , dan selalulah berzikir agar keridhaan Tuhan menyertai inovasi fikir kita. Jika kita selalu menggunakan fikir dan zikir, ruang dan waktu itu pasti akan menyatukan kita kembali.
Kita tidak boleh larut dalam kesedihan, sebab kesedihan yang larut menjadi penghalang gerak perjuangan. Perjuangan kita masih panjang demi mengabdi pada agama, nusa bangsa dan Negara. Mari kita jaga kota dengan kedamaian, keakraban dan rasa saling menghargai tanpa harus melukai sekalipun tajam terkatakan. Terimakasih Siantar ku, sahabat ku, mitra ku, saudara ku dan salam hormat buat guru ku. Inilah kado terindah yang bisa ku ucapkan sebagai bentuk kenangan bersama Siantar ku. Kini ku yakni diri ku, dan kau pun telah meyakini ku, bahwa Aku Bukan Pejabat, Tetapi Seorang Sahabat.
Drs. Safwan Khayat M. Hum
*PENULIS, Alumnus SMA Neg.I Medan, UMA dan Dosen UMA, Alumnus Pasca Sarjana USU, Mantan Kasatlantas Poltabes MS, Mantan Wakapolresta P Siantar. Email; safwankhayat@yahoo.com.
Tapi Seorang
Sahabat
Kado Kenangan Buat Siantar Ku
Matahari terbit di ufuk timur menyinari bumi yang berputar seiring tanpa melalaikan sedetik pun rotasi jarum waktu. Sebuah kata pujian terucap rasa syukur kepada Sang Pencipta yang telah membentangkan hamparan bumi dengan gunung tinggi sebagai tiangnya, sungai dan laut sebagai penyuburnya dan daratan yang luas dengan segala isi ciptaan-Nya. Semua ini terjadi atas Kuasa-Nya yang setiap hari kita rasakan dan jalani selaras dengan denyut nadi, jantung dan jam kehidupan. Karunia-Nya tak akan bisa kita bayar kecuali wujud penghambaan diri kepada-Nya dengan sadar, tulus, ikhlas dan rendah diri.
Semua ini dilalui tanpa terasa 15 bulan sudah aku jejakkan tapak kaki ini di sebuah kota tempat aku mengabdi kepada Negara sebagai penegak hukum, pengayom dan pengabdi masyarakat. Di kota itu, berjuta pengalaman, kenangan dan cita berpadu dalam sebuah memoriam betapa diri ini telah menyatu dalam rajutan persahabatan. Tatkala ku alurkan fikiran ini, mereka merespon ku. Tatkala ku langkahkan kaki ini, mereka menyambut ku. Manakala ku lepaskan seluruh eksistensi ku, mereka menyapa ku dengan sapaan sahabat. Tak ku hitung berapa sudah waktu, fikiran dan tenaga yang teruai, sebab semua itu sangatlah tidak pantas untuk di hitung. Tetapi berjuta kenangan nyaris terhitung bersama warga, karena kenangan inilah yang pantas ku hitung.
Oh Siantar ku !! Darah yang setitik, rambut setiap helai, jantung yang berdetak dan dengusan nafas kehidupan menemani ku dalam suka, duka, durja dan canda tawa. Walau aku jauh dari keluarga ku, tapi Siantar ku selalu menemani tugas ku. Kau lah sahabat ku, mitra kerja ku, saudara ku, guru ku dan inspirasi ku.
Walau aku pernah menyapa mu dalam tugas waktu dulu (saat itu Kaur Regiden Satlantas Polres Simalungun 1999 – 2002) tapi tatkala aku kembali ditugaskan di tahun 2007-2008 (Wakapolresta P Siantar) kau telah menyentuh kalbu ku. Kau ajak aku pada pagi yang menggairahkan dengan dinamika Siantar, tapi kau hembuskan angin malam dengan kesejukan dan keakraban. Kita melebur menjadi satu kekuatan yang memberangus kehampaan dan kepura-puraan karena kita landasi dengan niat keikhlasan.
Siantar bagaikan Medan kota kelahiran ku tempat berkumpul keluarga, sahabat, guru dan siapa saja. Sulit aku bedakan walau akhirnya aku harus jujur membedakannya, bahwa Siantar adalah Siantar, Medan ya tetap Medan .
Ku sadari, fikiran ku kacau ketika ku paksakan diri ini berpisah dari mu. Jantung ku lemah dengan denyut nadi yang tak normal, sebab aliran darah persahabatan kini teruji dipisah oleh ruang dan waktu. Kaki ku gemulai meninggalkan kenangan Siantar yang telah kita rajut bersama-sama. Dada ku sesak, bibir bergetar berat seiring dengan geraian air mata yang mulai menumpuk di dua bola kornea mata ku. Tubuh besar ku gemetar bagai kehilangan energi hidup yang mengiris-iris seluruh persendian anatomi ku. Dalam bathin ini aku menangis sembari ku sisipkan doa ;
“Ya Tuhan, aku bersyukur atas anugrah dan karunia Mu, ku tundukkan kepala ku hanya semata menyembah Mu. Ku tengadahkan tangan ku hanya semata bermunajat atas keridhaan Mu. Ku geraikan persaaan ku, karena kepada Mu lah tempat ku mengadu”.
“Ya Tuhan, aku hina karena Engkau Penguasa. Aku bukan penguasa, sebab aku manusia durja di mata Mu. Aku bukan pejabat, tapi aku sahabat mereka. Aku adalah mereka, sebab mereka adalah aku. Jangan kau cabut ridho Mu, sebab aku terus merindukan ridho Mu”.
Masih ku ingat bekas piring sarapan pagi ku di warung Kok Tung, gelas air minum ku di warung pinggiran yang ditaburi abu jalanan, kolam pancing tempat ku berdialog dengan alam dan tempat mejeng ku bersama teman-teman Bikers Mitra Polri (BMP) dengan sepeda motor butut tua merk Honda C-90 rakitan tahun 1970-an.
Sulit ku lupa “tamparan” kritis sahabat ku yang mereka tuliskan melalui tinta pena jurnalisme. Mereka “dor” aku dengan senapan jurnalisnya, mereka tampilkan foto ku bagaikan aku seorang bintang Hollywood kelahiran Anak Medan. Mereka tulis prestasi institusi ku dengan jiwa persahabatan dan keikhlasan. Mereka protes aku dengan suaranya yang kritis, sok tahu dan sedikit lantam tapi aku suka.
Renyuh hati bila ingat saat aku nyantri bersama warga dan sahabat ku di sebuah pesantren yang mengajarkan kesederhanaan, kejujuran dan keikhlasan. Sungguh sebuah tampilan hidup yang menggambarkan kehidupan surgawi yang diajarkan guru ku pimpinan pesantren Darussalam KH Muhammad Bakri LC (yang akrab kami sapa Abun). Ulama kharismatik ini memiliki stereotype yang rendah hati, bersahaja, wara’, berani dan cerdas. Dada ku basah karena disirami kalimah zikir yang diajarkannya, otak ku encer dibaluti rentetan pertimbangan yang rasional darinya. Begitulah Abun ku hormati yang selalu menasehati kata hikmah menghujam persis tepat ke sanubari ku.
Masih teramat banyak bila ku uraikan jutaan kenangan Siantar ku. Tinta pena ini pastilah tidak cukup bila seluruhnya tumpah dalam gundah ku. Tetapi ku yakini bahwa setiap huruf yang keluar dari bibir pena tersimpan cerita indah yang ku simpul dalam resapan hati ku ini.
Jujur saja, hati berat menerimanya, tetapi aku harus tunduk dan patuh kepada Negara. Sebab Negara adalah milik kita, harapan dan masa depan kita. Kota tidak memisahkan persahabatan kita, sebab kota hanya memisahkan ruang dan waktu saja. Aku harus memenuhi tugas baru yang dipercayakan Negara kepada ku. Aku kembali ke kota kelahiran ku demi memenuhi rasa abdi ku kepada Negara. Bila jembatan hati ini terus terajut maka kita dapat menembus ruang dan waktu yang terpisah ini. Jembatan hati yang kita rajut bagaikan anyaman kain dipintal dengan jutaan helai benang. Semakin dirajut semakin kuat, padat dan indah, apalagi di hiasi dengan sentuhan persahabatan dengan corak warna kelembutan fikir dan zikir.
Siantar ku !! Tetaplah kita berfikir melahirkan inovasi yang berguna bagi peradaban kota , dan selalulah berzikir agar keridhaan Tuhan menyertai inovasi fikir kita. Jika kita selalu menggunakan fikir dan zikir, ruang dan waktu itu pasti akan menyatukan kita kembali.
Kita tidak boleh larut dalam kesedihan, sebab kesedihan yang larut menjadi penghalang gerak perjuangan. Perjuangan kita masih panjang demi mengabdi pada agama, nusa bangsa dan Negara. Mari kita jaga kota dengan kedamaian, keakraban dan rasa saling menghargai tanpa harus melukai sekalipun tajam terkatakan. Terimakasih Siantar ku, sahabat ku, mitra ku, saudara ku dan salam hormat buat guru ku. Inilah kado terindah yang bisa ku ucapkan sebagai bentuk kenangan bersama Siantar ku. Kini ku yakni diri ku, dan kau pun telah meyakini ku, bahwa Aku Bukan Pejabat, Tetapi Seorang Sahabat.
Drs. Safwan Khayat M. Hum
*PENULIS, Alumnus SMA Neg.I Medan, UMA dan Dosen UMA, Alumnus Pasca Sarjana USU, Mantan Kasatlantas Poltabes MS, Mantan Wakapolresta P Siantar. Email; safwankhayat@yahoo.com.
Andai Pohon Bisa Bicara
Derita Bathin Sang Pohon !
Kami hanyalah makhluk lemah ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa. Kami bersujud kepada Tuhan yang menciptakan seluruh isi alam dengan hutan rimba yang menyejukan, laut yang luas dan dalam serta ruang kehidupan yang tak berujung dalam lingkaran bumi yang bulat. Kami dan engkau (manusia dan hewan) adalah hamba-Nya yang sama-sama menghuni bumi ini dengan batas waktu yang telah ditentukan. Kami dan engkau saling melengkapi agar Sunnatullah berjalan menurut qadar dan iradat-Nya.
Peran kami dan engkau tentulah berbeda, sebab kami memiliki keterbatasan gerak dan kesempatan. Engkau bisa bergerak kemana saja memperturuti hawa nafsu dan akal mu, tetapi kami hanya berdiri, bertahan dan berharap semoga kami dipelihara lalu diperhatikan demi kelangsungan hidup selanjutnya.
Kami bantu kesejukan alam ini dengan hembusan nafas zat HO2 dan O2 serta jutaan elektron ion kehidupan dari tubuh kami. Kami lenggokan kemolekan tubuh ini dengan lambaian dedaunan nan hijau penuh kelembutan manakala angin menyapa dengan hembusan persahabatan. Kami lindungi sekitarnya dengan hawa kesejukan tatkala sang Matahari betapa “sombong” menunjukkan kehebatan panasnya.
Tidak terhitung berapa banyak jenis kami yang dibabat oleh pembalakan liar di kawasan tempat kami hidup. Tubuh kami “dijajah”, dieksploitasi dan diperjualbelikan demi mengejar keuntungan duniawi yang tidak berbias bagi diri kami. Kami dijadikan komoditi yang mampu menembus pasar domestik dan internasional yang ditukar dengan nilai mata uang sesuai dengan ukuran tubuh dan berat badan kami. Kami diperdagangkan demi semata mengumpulkan kekayaan yang tak pernah kami nikmati sedikitpun. Padahal, kami hanya membutuhkan setitik air kehidupan yang menyirami dan membasahi tubuh kami agar ruang kehidupan duniawi tidak kering, panas, tandus dan menjengkelkan. Jikalau kami minta lebih dari itu, semisal pupuk atau sejenisnya, itupun tidaklah berlebihan bila dibandingkan dengan keuntungan materi yang diperoleh dari diri kami.
Kami dijadikan komiditi ekonomi dengan pola ragam bentuk yang dapat menghasilkan karya seni. Dengan kehebatan teknologi, kami bisa di pola menjadi kursi, meja, pintu, lemari, spring bed, kotak obat, perangkat keras rumah, pendopo dan entah apa lagi. Teramat banyak yang bisa dihasilkan dari tubuh kami sehingga kami menjadi bahan rebutan dengan segenap peluang dan tantangan yang ada.
Kami bersyukur kepada Tuhan Yang Menciptakan kami dapat memberikan yang terbaik bagi sesama makhluk di luar tubuh kami. Dedaunan yang memperindah penampilan kami membawa manfaat bagi sebagian hewan yang dijadikan sebagai makanan pokok mereka. Bahkan, beberapa spesies dari jenis kami, daunnya bisa memiliki khasiat yang luar biasa guna menyembuhkan beberapa jenis penyakit manusia.
Tetapi, rasa syukur kami kepada Tuhan adakah berbalas dengan mensyukuri segala kebesaran Sang Ilahi yang menciptakan seluruh hamparan bumi dengan kekayaan yang terkandung didalamnya ? Adakah rasa syukur itu diwujudkan dengan perhatian menjaga lingkungan yang serta merta sama pula menjaga diri kami ? Sesungguhnya, penderitaan kami semakin membekas jikalau kami dieksploitasi terus menerus.
Tak cukup komoditi ekonomi, kami pun dijadikan hiasan politik oleh engkau yang berpesta demokrasi. Tubuh kami kembali dieksploitasi demi memperlihatkan ribuan foto close up dengan senyuman, wajah yang penuh harap, jutaan kata ajakan menempel di seluruh tubuh kami. Tubuh ini terasa berat menangung beban ribuan gambar-gambar itu. Belum lagi tajamnya paku yang menancap di tubuh kurus ini hingga melukai dan berdarah.
Mungkin sudah nasib bagi kami yang berada nun jauh dari mata, dimana kami tumbuh dan subur jauh dari amatan dan sentuhan di rimba sana. Kami yang berada di kota dengan dengan kelopak mata, engkau nyaris sia-siakan kami. Hampir tidak tersisa setiap tubuh kami di sepanjang jalanan kota dan luar kota bergantungan wajah-wajah mu. Selagi masih ada tempat di atas batang tubuh ini, engkau tanjapkan wajah mu di atas wajah ku. Kesalnya lagi, tak jarang sebagian anggota tubuh kami dipotong agar wajah manis mu dilirik orang lain. Padahal jujur saja, kami juga ingin tampil indah agar dilirik orang lain.
Heran..!! Apa sih salah kami? Mengapa kami harus berbaik hati sementara engkau sedikit pun tak pernah menyirami tubuh ini? Pernah engkau perhatikan kami tatkala kerongkongan ini kering dan haus ? Ingatkah kau kepada kami ketika keinginan mu terwujud ? Bisakah engkau kembalikan keindahan tubuh kami setelah semua ini berlalu ? Atau engkau biarkan saja foto diri mu menempel terus menutupi wajah kami ?
Yah !! mungkin sudah nasib kami yang selalu dieksploitasi. Kami hanya pasrah menanti waktu, hari dan musim yang pasti kami jalani. Kami hanya sebatang pohon bisu yang tertindih oleh kerasnya kehidupan manusia sesuai zamannya. Keuntungan ekonomi dan obsesi politik melengkapi penderitaan kami. Semua tak berbalas, sebab kami tidak pernah meminta balasan. Kami hanya menangis dan terus menangis seraya berdoa kepada Tuhan Yang Maha Penyayang ;
“Tuhan, gerakkan hati dan fikiran mereka agar peduli lingkungan dengan menjaga sesama ciptaan-Mu. Tuhan, Kau Maha Perkasa dan Maha Bijaksana. Jangan Kau jatuhkan keputusan azab-Mu hanya karena mereka rusak ciptaan-Mu sebenarnya mereka tidak mengetahui apa yang sudah mereka lakukan itu adalah salah . Sebab kami yakin, tidak ada yang lebih tinggi dari Mu”. Kepada Mu kami menyembah, dan kepada-Mu juga kami mohon pertolongan”.
Kami berharap dan terus berharap agar persahabatan kita dapat terjalin. Kami dan engkau saling melengkapi di setiap detik putaran waktu bumi. Persahabatan abadi ini wujud kepedulian kita kepada alam yang dititipkan Sang Ilahi.
Sayangi kami, sebagaimana kami menyayangi mu. Mari kita saling melengkapi dengan menjaga hubungan sesama makhluk hidup. Terimakasih kami ucapkan kepada engkau sahabat kami yang menyapa alam dengan ramah, peduli dan mau mengerti.
Medan, 28 Januari 2009
Drs. Safwan Khayat M.Hum
*Penulis, Alumnus SMA Negeri 1 Medan, Alumnus dan Dosen UMA, Alumnus Pascasarjana USU. Email; safwankhayat@yahoo.com /http//:safwankhayat.blogspot.com
Kami hanyalah makhluk lemah ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa. Kami bersujud kepada Tuhan yang menciptakan seluruh isi alam dengan hutan rimba yang menyejukan, laut yang luas dan dalam serta ruang kehidupan yang tak berujung dalam lingkaran bumi yang bulat. Kami dan engkau (manusia dan hewan) adalah hamba-Nya yang sama-sama menghuni bumi ini dengan batas waktu yang telah ditentukan. Kami dan engkau saling melengkapi agar Sunnatullah berjalan menurut qadar dan iradat-Nya.
Peran kami dan engkau tentulah berbeda, sebab kami memiliki keterbatasan gerak dan kesempatan. Engkau bisa bergerak kemana saja memperturuti hawa nafsu dan akal mu, tetapi kami hanya berdiri, bertahan dan berharap semoga kami dipelihara lalu diperhatikan demi kelangsungan hidup selanjutnya.
Kami bantu kesejukan alam ini dengan hembusan nafas zat HO2 dan O2 serta jutaan elektron ion kehidupan dari tubuh kami. Kami lenggokan kemolekan tubuh ini dengan lambaian dedaunan nan hijau penuh kelembutan manakala angin menyapa dengan hembusan persahabatan. Kami lindungi sekitarnya dengan hawa kesejukan tatkala sang Matahari betapa “sombong” menunjukkan kehebatan panasnya.
Tidak terhitung berapa banyak jenis kami yang dibabat oleh pembalakan liar di kawasan tempat kami hidup. Tubuh kami “dijajah”, dieksploitasi dan diperjualbelikan demi mengejar keuntungan duniawi yang tidak berbias bagi diri kami. Kami dijadikan komoditi yang mampu menembus pasar domestik dan internasional yang ditukar dengan nilai mata uang sesuai dengan ukuran tubuh dan berat badan kami. Kami diperdagangkan demi semata mengumpulkan kekayaan yang tak pernah kami nikmati sedikitpun. Padahal, kami hanya membutuhkan setitik air kehidupan yang menyirami dan membasahi tubuh kami agar ruang kehidupan duniawi tidak kering, panas, tandus dan menjengkelkan. Jikalau kami minta lebih dari itu, semisal pupuk atau sejenisnya, itupun tidaklah berlebihan bila dibandingkan dengan keuntungan materi yang diperoleh dari diri kami.
Kami dijadikan komiditi ekonomi dengan pola ragam bentuk yang dapat menghasilkan karya seni. Dengan kehebatan teknologi, kami bisa di pola menjadi kursi, meja, pintu, lemari, spring bed, kotak obat, perangkat keras rumah, pendopo dan entah apa lagi. Teramat banyak yang bisa dihasilkan dari tubuh kami sehingga kami menjadi bahan rebutan dengan segenap peluang dan tantangan yang ada.
Kami bersyukur kepada Tuhan Yang Menciptakan kami dapat memberikan yang terbaik bagi sesama makhluk di luar tubuh kami. Dedaunan yang memperindah penampilan kami membawa manfaat bagi sebagian hewan yang dijadikan sebagai makanan pokok mereka. Bahkan, beberapa spesies dari jenis kami, daunnya bisa memiliki khasiat yang luar biasa guna menyembuhkan beberapa jenis penyakit manusia.
Tetapi, rasa syukur kami kepada Tuhan adakah berbalas dengan mensyukuri segala kebesaran Sang Ilahi yang menciptakan seluruh hamparan bumi dengan kekayaan yang terkandung didalamnya ? Adakah rasa syukur itu diwujudkan dengan perhatian menjaga lingkungan yang serta merta sama pula menjaga diri kami ? Sesungguhnya, penderitaan kami semakin membekas jikalau kami dieksploitasi terus menerus.
Tak cukup komoditi ekonomi, kami pun dijadikan hiasan politik oleh engkau yang berpesta demokrasi. Tubuh kami kembali dieksploitasi demi memperlihatkan ribuan foto close up dengan senyuman, wajah yang penuh harap, jutaan kata ajakan menempel di seluruh tubuh kami. Tubuh ini terasa berat menangung beban ribuan gambar-gambar itu. Belum lagi tajamnya paku yang menancap di tubuh kurus ini hingga melukai dan berdarah.
Mungkin sudah nasib bagi kami yang berada nun jauh dari mata, dimana kami tumbuh dan subur jauh dari amatan dan sentuhan di rimba sana. Kami yang berada di kota dengan dengan kelopak mata, engkau nyaris sia-siakan kami. Hampir tidak tersisa setiap tubuh kami di sepanjang jalanan kota dan luar kota bergantungan wajah-wajah mu. Selagi masih ada tempat di atas batang tubuh ini, engkau tanjapkan wajah mu di atas wajah ku. Kesalnya lagi, tak jarang sebagian anggota tubuh kami dipotong agar wajah manis mu dilirik orang lain. Padahal jujur saja, kami juga ingin tampil indah agar dilirik orang lain.
Heran..!! Apa sih salah kami? Mengapa kami harus berbaik hati sementara engkau sedikit pun tak pernah menyirami tubuh ini? Pernah engkau perhatikan kami tatkala kerongkongan ini kering dan haus ? Ingatkah kau kepada kami ketika keinginan mu terwujud ? Bisakah engkau kembalikan keindahan tubuh kami setelah semua ini berlalu ? Atau engkau biarkan saja foto diri mu menempel terus menutupi wajah kami ?
Yah !! mungkin sudah nasib kami yang selalu dieksploitasi. Kami hanya pasrah menanti waktu, hari dan musim yang pasti kami jalani. Kami hanya sebatang pohon bisu yang tertindih oleh kerasnya kehidupan manusia sesuai zamannya. Keuntungan ekonomi dan obsesi politik melengkapi penderitaan kami. Semua tak berbalas, sebab kami tidak pernah meminta balasan. Kami hanya menangis dan terus menangis seraya berdoa kepada Tuhan Yang Maha Penyayang ;
“Tuhan, gerakkan hati dan fikiran mereka agar peduli lingkungan dengan menjaga sesama ciptaan-Mu. Tuhan, Kau Maha Perkasa dan Maha Bijaksana. Jangan Kau jatuhkan keputusan azab-Mu hanya karena mereka rusak ciptaan-Mu sebenarnya mereka tidak mengetahui apa yang sudah mereka lakukan itu adalah salah . Sebab kami yakin, tidak ada yang lebih tinggi dari Mu”. Kepada Mu kami menyembah, dan kepada-Mu juga kami mohon pertolongan”.
Kami berharap dan terus berharap agar persahabatan kita dapat terjalin. Kami dan engkau saling melengkapi di setiap detik putaran waktu bumi. Persahabatan abadi ini wujud kepedulian kita kepada alam yang dititipkan Sang Ilahi.
Sayangi kami, sebagaimana kami menyayangi mu. Mari kita saling melengkapi dengan menjaga hubungan sesama makhluk hidup. Terimakasih kami ucapkan kepada engkau sahabat kami yang menyapa alam dengan ramah, peduli dan mau mengerti.
Medan, 28 Januari 2009
Drs. Safwan Khayat M.Hum
*Penulis, Alumnus SMA Negeri 1 Medan, Alumnus dan Dosen UMA, Alumnus Pascasarjana USU. Email; safwankhayat@yahoo.com /http//:safwankhayat.blogspot.com
PSMS Ku, Menanti Matahari Terbit Kembali
PSMS Ku, Menanti Matahari Terbit Kembali
Menjelang siang tepatnya sang Matahari berada di ubun-ubun kepala, saya berniat balik di Mapolresta P Siantar setelah mengawasi anggota di lapangan sambil memantau situasi lingkar kota . Entah mengapa tanpa rencana, telepon seluler ku berbunyi muncullah nama di layar handphone seorang nama rekan sejawat yang bertugas di kantor Kejaksaan Simalungun. Telepon diangkat, singkat cerita aku meluncur ke ruang kerjanya..
Setibanya, kami berjabat tangan tersenyum sambil teman ku berucap, apa kabar bang Safwan ? Sehat, jawab ku mantap. Aku pun balik menyapa, abang bagaimana kabarnya ? Sama seperti abang Safwan, balasnya.
Beliau menyilakan aku duduk di kursi yang telah tersedia pada ruangan yang sederhana tetapi cukup enak dan sejuk karena ada airconditioner (AC) di ruangan itu. Bang Safwan minum apa ? tanyanya lagi. Saya sukanya air dingin, sambut ku. Koq minum es bang ? Nanti bang Safwan sakit, soalnyakan baru dari lapangan cuacakan cukup panas di luar ?, celotehnya. Gak apa bang, saya ingin minum dingin biar segar, jawabku.
Tak lama, datanglah minuman pesanan kami yang diantar seorang gadis yang berjualan di kantin kantor itu. Satu cangkir air dingin pesanan ku, sedangkan teman ku itu rupanya doyan kopi hitam yang kental. Eh rupanya, ada juga kue di atas piring kecil dengan cita rasanya yang enak.
Kami ngobrol santai tawa canda sambil sesekali meneguk minuman dan kue yang tersedia. Entah dari mana pembicaraan di mulai, tetapi kami serius membahas tentang masyarakat, hukum dan sesekali nyeleneh bicara politik.
Tak di sangka, teman ku itu bertanya di luar dugaan fikiran ku. Saya sedih lihat nasib PSMS Medan yang prestasinya tidak secemerlang dulu. Padahal, walau saya bukan orang Medan asli, tetapi PSMS sudah menjadi kebanggaan masyarakat Sumatera Utara, terangnya.
Aku kaget dan sangat shock, kenapa temanku menyinggung soal itu. Rupanya, setelah ku ikuti kata demi kata, beliau sangat mencintai tim kebanggaan kota kelahiran ku (PSMS), simpul ku.
Kami pun ngobrol soal PSMS Medan yang nama besarnya semakin pudar. Kekalahan sering dialami, sehingga memudarkan fanatisme dukungan bagi penggemarnya. Ciri khas permainannya pun tidak sekelas Ramli Yatim, Abdul Kadir, Nobon, Taufik Lubis, Suparjo, Sutrisno, Sumardi, Ricky Yakob dan skuad PSMS lainnya. Dulu, mayoritas tim PSSI dibanjiri pemain PSMS, sekarang paling hanya 2 orang saja, sesalnya.
Benak ku pun berputar, koq dia tahu nama-nama skuad PSMS zaman dulu, heran ku. Lalu ku simpulkan, betapa harumnya tim kota ku membawa harum provinsi ini ?
Tak terasa, obrolan kami menghabisi waktu ± 1 jam. Lalu kami berpisah sambil beliau berucap, lain waktu saya mampir ke kantor bang Safwan ? Saya tunggu ya ? sambut ku.
Aku pun balik ke Mapolresta P Siantar dengan mengendarai sepeda motor tua bermerk Honda Kijang C90 rakitan tahun 1970-an. Sepeda motor tua ini sering ku gunakan saat dinas di lapangan agar aku dapat lebih dekat dengan masyarakat.
Menuju Mapolresta, aku sampiri sejenak ada sejumlah warga sedang asyik ngobrol di warung kopi yang letaknya persis di bibir jalan. Ku parkirkan kereta butut ku persis di sebelah warung itu. Warga sontak kaget menyapa dan menghampiri ku.. Pak Safwan ada apa ke mari ? Ah enggak, cuma mau gabung minum teh, bolehkan ? tanya ku sok akrab. Bapak ini ada-ada saja, ya boleh la, kami pun senang pak Safwan mau duduk di warung ini ? sambut mereka. Lalu kami duduk berdekatan, aku pun mulai ambil ajang ku pesan air putih dingin lagi.
Seorang warga bertanya, dari mana pak ? Sepertinya baru ngontrol nich ? ingin tahunya. Oh ya, baru dari lapangan mengawasi situasi Kamtibmas kota ! tandas ku. Kami kaget lho, pak Safwan mau duduk di warung ? Kami kira ada yang mau ditangkap ? canda anak muda dengan lakon Bataknya. Kalian nich ada saja, saya kan juga sama seperti kalian ? jawab ku.
Kami pun larut dalam obrolan sambil menikmati segarnya minum teh manis dingin ku yang sedikit ditaburi abu jalanan. Tak kusangka anak muda yang suka mencandai ku tadi berceloteh. Pak Safwan, PSMS Medan tajinya sudah patah ya ? Mata ku terbelalak bagaikan mau copot. Koq sama ya pertanyaan anak muda ini dengan teman sejawat ku tadi ? heran ku. Aku semakin di cerca dengan tubian pertanyaan yang membuat dada ku panas dan kuping ku risih. PSMS Medan bukan lagi Ayam Kinantan, tapi ayam sayur ? seloronya tanpa memandang perasaan ku.
Aku ingin tahu apa motif pertanyaan mereka ini. Setelah ku investigasi, rupanya mereka fans berat dengan kesebelasan kesayangan ku. Mereka bangga dengan PSMS Medan walau mereka bukan anak Medan . Mereka sempat bernostalgia, tatkala PSMS Medan menjamu lawannya di Stadion Teladan datang jauh-jauh dari Siantar. Kami cinta dengan PSMS pak, sekaligus sedih nasibnya kini ? imbuhnya.
Dada ku yang panas perlahan-lahan dingin bagaikan tayangan iklan produk minuman yang dilakoni artis muda di televisi. Kuping ku tak risih lagi mendengar celoteh kolot mereka. Aku pun menyikapinya dengan sabar dan sadar bahwa beginilah nasib PSMS ku ? perih ku.
Ku lihat jam tangan ku sudah pukul 14.12 siang. Rupanya aku sudah 45 menit duduk bersama mereka. Aku pamit balik ke kantor sambil berjabat tangan akrab. Pak Safwan jangan marah ya dengan seloroh kami tadi ? harap pemuda yang buat dada ku panas tadi. Ah enggak, memang PSMS keadaannya ya begitu ! sambut ku.
Ku engkol sepeda motor butut ku dengan kecepatan 60 KM/jam. Maklum kereta tua tapi unik dan antik. Aku pun di lepas mereka dengan senyuman dan lambaian tangan.
Setiba di Mapolresta, aku langsung menuju ruang kerja ku dan duduk lesu terdiam. Ada apa dengan ku, mengapa hari ini orang-orang menyinggung tim kebanggaan ku ? sesak ku dalam dada. Apa yang harus ku lakukan, kalau kecintaan mereka semakin pudar di telan memudarnya nama besar PSMS Medan ku ? Lalu ku ambil pena dan secarik kertas putih polos. Ku goreskan pengalaman ini agar teman ku, saudara ku, keluarga ku dan orang-orang yang memiliki kecintaan dengan PSMS membaca keluh kesah ku.
Pena ku pun berbicara, PSMS ku harus bangkit sejaya dengan masa lalu mu. Jangan engkau hilangkan karisma mu yang mengharumkan kota ku, kota dia dan kota mereka. Sebab, PSMS bukan saja kebangkaan kota Medan , tetapi kebanggaan Sumatera Utara. Rupanya, mereka menanti terbitnya Matahari yang pernah menerangi persepakbolaan Sumatera Utara.
Pena ku seakan tak mau berhenti menuliskan satu persatu huruf kekecewaan. Apa salah mu hingga kau begini ? Kenapa kau ditelantarkan padahal jasa mu banyak ? Apa yang kita beri selayaknya PSMS telah memberi kejayaan dahulu ? Bisakah kita bangkitkan kedigjayaan PSMS ketika melumpuhkan lawan-lawannya dulu ? Banyak lagi celoteh sumpah serapah pena ku seakan tak mau berhenti.
Ku lihat jarum jam dinding tepat pukul 16.15 menit. Pena pun berhenti karena aku tersadar hendak shalat Ashar. Lalu pena ku tinggalkan menuju kamir mandi guna mengambil air wudhuk. Dalam ibadah ku berdoa; ya Tuhan, kapan Kau terbitkan lagi Matahari di kota ku ? Bisakah aku bersama teman ku membawa PSMS mengangkat kembali citranya yang menjadi kebanggaan kota ku ? Kepada Mu lah aku menyembah, dan kepada Mu lah aku memohon pertolongan ?
P Siantar Januari 2009
PE N U L I S
Drs Safwan Khayat M.Hum
*Alumni UMA dan Dosen UMA Medan, Alumni Pasca Sarjana USU, Mantan Kasatlantas Poltabes MS dan, Email ; safwankhayat@yahoo.com.
Menjelang siang tepatnya sang Matahari berada di ubun-ubun kepala, saya berniat balik di Mapolresta P Siantar setelah mengawasi anggota di lapangan sambil memantau situasi lingkar kota . Entah mengapa tanpa rencana, telepon seluler ku berbunyi muncullah nama di layar handphone seorang nama rekan sejawat yang bertugas di kantor Kejaksaan Simalungun. Telepon diangkat, singkat cerita aku meluncur ke ruang kerjanya..
Setibanya, kami berjabat tangan tersenyum sambil teman ku berucap, apa kabar bang Safwan ? Sehat, jawab ku mantap. Aku pun balik menyapa, abang bagaimana kabarnya ? Sama seperti abang Safwan, balasnya.
Beliau menyilakan aku duduk di kursi yang telah tersedia pada ruangan yang sederhana tetapi cukup enak dan sejuk karena ada airconditioner (AC) di ruangan itu. Bang Safwan minum apa ? tanyanya lagi. Saya sukanya air dingin, sambut ku. Koq minum es bang ? Nanti bang Safwan sakit, soalnyakan baru dari lapangan cuacakan cukup panas di luar ?, celotehnya. Gak apa bang, saya ingin minum dingin biar segar, jawabku.
Tak lama, datanglah minuman pesanan kami yang diantar seorang gadis yang berjualan di kantin kantor itu. Satu cangkir air dingin pesanan ku, sedangkan teman ku itu rupanya doyan kopi hitam yang kental. Eh rupanya, ada juga kue di atas piring kecil dengan cita rasanya yang enak.
Kami ngobrol santai tawa canda sambil sesekali meneguk minuman dan kue yang tersedia. Entah dari mana pembicaraan di mulai, tetapi kami serius membahas tentang masyarakat, hukum dan sesekali nyeleneh bicara politik.
Tak di sangka, teman ku itu bertanya di luar dugaan fikiran ku. Saya sedih lihat nasib PSMS Medan yang prestasinya tidak secemerlang dulu. Padahal, walau saya bukan orang Medan asli, tetapi PSMS sudah menjadi kebanggaan masyarakat Sumatera Utara, terangnya.
Aku kaget dan sangat shock, kenapa temanku menyinggung soal itu. Rupanya, setelah ku ikuti kata demi kata, beliau sangat mencintai tim kebanggaan kota kelahiran ku (PSMS), simpul ku.
Kami pun ngobrol soal PSMS Medan yang nama besarnya semakin pudar. Kekalahan sering dialami, sehingga memudarkan fanatisme dukungan bagi penggemarnya. Ciri khas permainannya pun tidak sekelas Ramli Yatim, Abdul Kadir, Nobon, Taufik Lubis, Suparjo, Sutrisno, Sumardi, Ricky Yakob dan skuad PSMS lainnya. Dulu, mayoritas tim PSSI dibanjiri pemain PSMS, sekarang paling hanya 2 orang saja, sesalnya.
Benak ku pun berputar, koq dia tahu nama-nama skuad PSMS zaman dulu, heran ku. Lalu ku simpulkan, betapa harumnya tim kota ku membawa harum provinsi ini ?
Tak terasa, obrolan kami menghabisi waktu ± 1 jam. Lalu kami berpisah sambil beliau berucap, lain waktu saya mampir ke kantor bang Safwan ? Saya tunggu ya ? sambut ku.
Aku pun balik ke Mapolresta P Siantar dengan mengendarai sepeda motor tua bermerk Honda Kijang C90 rakitan tahun 1970-an. Sepeda motor tua ini sering ku gunakan saat dinas di lapangan agar aku dapat lebih dekat dengan masyarakat.
Menuju Mapolresta, aku sampiri sejenak ada sejumlah warga sedang asyik ngobrol di warung kopi yang letaknya persis di bibir jalan. Ku parkirkan kereta butut ku persis di sebelah warung itu. Warga sontak kaget menyapa dan menghampiri ku.. Pak Safwan ada apa ke mari ? Ah enggak, cuma mau gabung minum teh, bolehkan ? tanya ku sok akrab. Bapak ini ada-ada saja, ya boleh la, kami pun senang pak Safwan mau duduk di warung ini ? sambut mereka. Lalu kami duduk berdekatan, aku pun mulai ambil ajang ku pesan air putih dingin lagi.
Seorang warga bertanya, dari mana pak ? Sepertinya baru ngontrol nich ? ingin tahunya. Oh ya, baru dari lapangan mengawasi situasi Kamtibmas kota ! tandas ku. Kami kaget lho, pak Safwan mau duduk di warung ? Kami kira ada yang mau ditangkap ? canda anak muda dengan lakon Bataknya. Kalian nich ada saja, saya kan juga sama seperti kalian ? jawab ku.
Kami pun larut dalam obrolan sambil menikmati segarnya minum teh manis dingin ku yang sedikit ditaburi abu jalanan. Tak kusangka anak muda yang suka mencandai ku tadi berceloteh. Pak Safwan, PSMS Medan tajinya sudah patah ya ? Mata ku terbelalak bagaikan mau copot. Koq sama ya pertanyaan anak muda ini dengan teman sejawat ku tadi ? heran ku. Aku semakin di cerca dengan tubian pertanyaan yang membuat dada ku panas dan kuping ku risih. PSMS Medan bukan lagi Ayam Kinantan, tapi ayam sayur ? seloronya tanpa memandang perasaan ku.
Aku ingin tahu apa motif pertanyaan mereka ini. Setelah ku investigasi, rupanya mereka fans berat dengan kesebelasan kesayangan ku. Mereka bangga dengan PSMS Medan walau mereka bukan anak Medan . Mereka sempat bernostalgia, tatkala PSMS Medan menjamu lawannya di Stadion Teladan datang jauh-jauh dari Siantar. Kami cinta dengan PSMS pak, sekaligus sedih nasibnya kini ? imbuhnya.
Dada ku yang panas perlahan-lahan dingin bagaikan tayangan iklan produk minuman yang dilakoni artis muda di televisi. Kuping ku tak risih lagi mendengar celoteh kolot mereka. Aku pun menyikapinya dengan sabar dan sadar bahwa beginilah nasib PSMS ku ? perih ku.
Ku lihat jam tangan ku sudah pukul 14.12 siang. Rupanya aku sudah 45 menit duduk bersama mereka. Aku pamit balik ke kantor sambil berjabat tangan akrab. Pak Safwan jangan marah ya dengan seloroh kami tadi ? harap pemuda yang buat dada ku panas tadi. Ah enggak, memang PSMS keadaannya ya begitu ! sambut ku.
Ku engkol sepeda motor butut ku dengan kecepatan 60 KM/jam. Maklum kereta tua tapi unik dan antik. Aku pun di lepas mereka dengan senyuman dan lambaian tangan.
Setiba di Mapolresta, aku langsung menuju ruang kerja ku dan duduk lesu terdiam. Ada apa dengan ku, mengapa hari ini orang-orang menyinggung tim kebanggaan ku ? sesak ku dalam dada. Apa yang harus ku lakukan, kalau kecintaan mereka semakin pudar di telan memudarnya nama besar PSMS Medan ku ? Lalu ku ambil pena dan secarik kertas putih polos. Ku goreskan pengalaman ini agar teman ku, saudara ku, keluarga ku dan orang-orang yang memiliki kecintaan dengan PSMS membaca keluh kesah ku.
Pena ku pun berbicara, PSMS ku harus bangkit sejaya dengan masa lalu mu. Jangan engkau hilangkan karisma mu yang mengharumkan kota ku, kota dia dan kota mereka. Sebab, PSMS bukan saja kebangkaan kota Medan , tetapi kebanggaan Sumatera Utara. Rupanya, mereka menanti terbitnya Matahari yang pernah menerangi persepakbolaan Sumatera Utara.
Pena ku seakan tak mau berhenti menuliskan satu persatu huruf kekecewaan. Apa salah mu hingga kau begini ? Kenapa kau ditelantarkan padahal jasa mu banyak ? Apa yang kita beri selayaknya PSMS telah memberi kejayaan dahulu ? Bisakah kita bangkitkan kedigjayaan PSMS ketika melumpuhkan lawan-lawannya dulu ? Banyak lagi celoteh sumpah serapah pena ku seakan tak mau berhenti.
Ku lihat jarum jam dinding tepat pukul 16.15 menit. Pena pun berhenti karena aku tersadar hendak shalat Ashar. Lalu pena ku tinggalkan menuju kamir mandi guna mengambil air wudhuk. Dalam ibadah ku berdoa; ya Tuhan, kapan Kau terbitkan lagi Matahari di kota ku ? Bisakah aku bersama teman ku membawa PSMS mengangkat kembali citranya yang menjadi kebanggaan kota ku ? Kepada Mu lah aku menyembah, dan kepada Mu lah aku memohon pertolongan ?
P Siantar Januari 2009
PE N U L I S
Drs Safwan Khayat M.Hum
*Alumni UMA dan Dosen UMA Medan, Alumni Pasca Sarjana USU, Mantan Kasatlantas Poltabes MS dan, Email ; safwankhayat@yahoo.com.
Gagasi Hidup Dengan Berfikir Bentengi Dengan Berzikir
Kamis, 2009 Januari 01
Gagasi Hidup Dengan Berfikir Bentengi Dengan Berzikir
Tahun 2009 Gagasi Hidup Dengan Berfikir,
Bentengi Dengan Berzikir
Oleh,
Drs. Safwan Khayat M.Hum
Tulisan ini catatan kecil gugahan ruang perilaku kita di tahun 2008 agar lebih berbeda di tahun 2009 ini. Rangkaian perilaku kita dalam bertindak memutuskan sesuatu adakah dinafasi dengan berfikir dan berzikir sebagai kekuatan. Tanpa bermaksud menggurui pembaca, penulis mengajak pembaca bahwa selama ini kita lemah sekali menggandengkan dua kekuatan ini di setiap proses kehidupan ini.
Detik, menit, jam, hari, minggu dan bulan kita lalui dengan hayalan, harapan, kenangan, obsesi, tangisan dan canda tawa. Putaran detak jarum jam diiringi detak jatung kehidupan dalam menafasi seluruh aktifitas kita di tahun lalu. Semuanya telah berlalu di tahun 2008 dengan harapan di tahun 2009 muncul suatu perubahan hidup yang lebih baik, dinamis dan produktif.
Setiap kata yang terurai, janji yang terucap, arah kaki melangkah dan sikap yang diperbuat menjadi pengalaman yang tidak terlupakan. Andaikan kehidupan ini dituliskan ke dalam sebuah buku catatan harian, berjuta kata terangkai indah dan beratus anak pena habis terpakai di atas kumpulan lembaran kertas dengan ragam jenisnya. Bisa jadi, cerita indah tertulis lincah di atas jari jemari kegembiraan yang menggoreskan rangkaian obsesi dan prestasi yang di raih di tahun 2008. Tidak dipungkiri pula, sejumlah cerita buruk juga terkumpul dalam catatan itu di atas pena kelukaan yang penuh penyesalan, sumpah serapah, kegagalan dan entah apa lagi.
Kini semuanya menjadi cerita kenangan pahit, getir, manis dan bahagia masih belum lepas dari ingatan. Tahun 2009 harus menjadi milik kita, milik keluarga kita, milik sahabat kita dan milik semua orang tatkala awal pergantian tahun dilanjuti dengan putaran detik, menit, jam, hari, minggu dan bulan. Perubahan harus kita raih yakni dengan cara merubah pola berfikir dan orientasi diri merangkul kebersamaan. Di tahun ini pula, titian hidup diperkokoh dengan kekuatan fakultas fikir dan fakultas zikir di dalam diri. Dua fakultas ini harus berjalan beriringan tanpa boleh berjalan sendiri-sendiri.
Fakultas fikir yakni menata sistem berfikir logika sehat dengan perencanaan matang dengan memanfaatkan peluang dan merangkul seluruh potensi kemanusiaan. Tidak mungkin seseorang berhasil tanpa dukungan dan doa orang lain. Fakultas zikir adalah meneguhkan hati dengan rohani yang kuat, sejuk dan lembut dengan zikrullah agar kita lebih berjiwa besar serta mampu meredam emosi negatif yang kurang menguntungkan dalam hidup ini.
Kedua fakultas ini menjadi benteng diri tatkala menapaki rangkain agenda hidup di tahun baru ini. Di tengah situasi yang sulit dengan himpitan krisis ekonomi global, kedua fakultas ini dapat membantu kita dalam menyikapi setiap keadaan yang berhadapan dengan persoalan diri. Artinya, pembentukan fakultas fikir dapat membantu otak kiri dan kanan dalam mengolah data dan fakta guna menghasilkan sesuatu yang bermanfaat. Sementara fakultas zikir menyirami kekeringan rohani manusia yang dijadikan sebagai pilar keteguhan jiwa manakala berhadapan dengan situasi persoalan yang krusial (rumit). Berfikir dan berjiwa besar adalah implementasi dari dua kekuatan fakultas fikir dan zikir. Lakukanlah sesuatu yang berguna, jika kita ingin hidup berguna. Andaikan kita selalu berfikir dan berzikir, maka kita dijauhi dari hidup fakir dan sifat kikir.
Gagasi hidup dengan berfikir, akan membantu seluruh perencanaan hidup di muka bumi, tetapi bentengi pula dengan berzikir maka sesungguhnya hidup jauh lebih terarah menuju kebahagian hidup dunia dan akhirat.
Mengutip pesan pengetahuan dan moral yang diajarkan Rasulullah SAW dalam sabdanya yakni ;
Kalau engkau ingin hidup bahagia di dunia, maka gunakanlah fikir mu (ilmu). Jika engkau ingin bahagia di akhirat, maka gunakanlah zikir mu (ilmu). Jika engkau ingin hidup bahagia dunia dan akhirat, maka gandengkanlah fikir dan zikir mu.
Akhir catatan kelabu di penghujung 2008 isilah dengan awal catatan ceria di awal pergantian waktu di tahun 2009. Hapus hayalan yang menyesakkan otak dan dada, dengan menggantikannya dengan perencanaan dengan fikir dan zikir. Susunlah perencanaan diri dengan urutannya sesuai dengan skala prioritas dan batas kemampuan. Sebab, saat kini kita sedang melalui masa sulit krisis ekonomi global yang melingkari pendapatan ekonomi kita. Jauhi kepanikan, tetapi dekatkan ketenangan yakni dengan menggunakan pola fikir dan potensi zikir.
Tahun 2008 tidaklah berbeda dengan tahun 2009 jika kita lihat dari sisi ruang, waktu, hari, minggu dan bulan. Tetapi yang perlu kita bedakan yakni perencanaan diri yang terukur dengan pemanfaatan gagasan berfikir dan potensi berzikir. Di tahun 2009 ini pasti berlaku sama jika kita tidak merubah pola hidup dengan tahun lalu. Kesempatan tidak mungkin terulang andaikan kita tidak memeliharanya dan menggunakannya. Kesempatan tidak datang dengan sendiri, tetapi harus kita ciptakan dengan berbuat positif lalu datanglah kesempatan itu. Begitu pula pengalaman bukanlah musibah atau doa yang terkabul, tetapi pengalaman itu datang karena kelalaian atau keseriusan kita memanfaatkan kesempatan tadi.
Yang terpenting, kita bersyukur melalui tahapan pergantian waktu ini berjalan dengan mulus tanpa riak dan situasi yang menakutkan. Kedewasaan diri kita mulai tumbuh dengan perilaku yang positif sekalipun belum terwujud perubahan totalitas. Mulai hidup sederhana, karena keserdahaan bukanlah berarti kita miskin. Hiduplah dengan waktu dan rezeki yang tepat guna karena lebih terukur atas setiap hasil yang diperoleh. Adakah kita lebih sederhana melawan emosi hidup dengan bermegah-megah di tahun 2008 ? Bisakah kita bersabar sedikit memanfaatkan waktu dan rezeki secara terukur ? Apakah dominasi tindakan emosional lebih mengental daripada sikap rasional ? Mampukah kita menjaga prestasi dibandingkan prestise ? Inilah sekelumit urutan pertanyaan yang muncul dalam menyikapi pergantian tahun ini.
Bangsa kita bakal memasuki sejumlah aktifitas besar khusus pada ruang pentas politik. Disamping agenda krisis ekonomi, agenda politik seperti pemilihan umum (Pemilu) 2009 menjadi pesta politik paling akbar. Ada dua Pemilu yang kita hadapi yakni memilih wakil kita di parlemen dan memilih pimpinan nasional (Presiden dan Wakilnya). Gesekan dan konflik horizontal berpotensi terjadi dari para pendukung andaikan setiap perencanaan politik tidak melekatkan kekuatan fikir dan zikir. Diperhitungkan, tahun 2009 ini berlangsung seru karena adanya dua aktifitas politik yang paling akbar dengan kekuatan kontestan multi partai.
Kedewasaan berpolitik dengan kekuatan fikir dan zikir setidaknya menjaga ruang stabilisasi keamanan. Sikap politik yang tidak mengandalkan fikir dan zikir yang timbul hanyalah memaksakan kehendak atau cara-cara yang merusak tatanan hidup berbangsa. Begitu pula sikap menghamburkan uang demi mengejar jabatan dunia, padahal situasi krisis ekonomi saat ini hendaknya harus kita sikapi dengan kesederhaan dengan pemanfaat waktu dan rezeki tepat guna.
Penutup
Jika kita merasakan kegagalan, bukanlah membunuh seluruh obsesi kita yang masih panjang, tetapi kegagalan itu adalah obsesi tertunda yang memerlukan teknik hitungan matang.. Andaikan kita telah berhasil, jangan berpuas diri sebab kegagalan selalu mengintip kelalaian kita. Selamat tinggal tahun 2008 yang kini menjadi kenangan, selamat datang tahun 2009 menjadi awal masa perubahan. Kita gagasi setiap perencanaan dengan berfikir dengan dilapisi berzikir sebagai benteng diri. Mudah-mudahan di tahun baru ini ikut memperbaharui seluruh rangkaian pola hidup yang lebih positif dan produktif. Wallahu a’lam bishawwab !!
P. Siantar, 1 Januari 2009
P E N U L I S
Drs. Safwan Khayat M.Hum
* PENULIS, Alumnus SMA Neg I Medan, UMA dan Dosen UMA, Alumnus Pasca Sarjana USU, . Email; safwankhayat@yahoo.com
Gagasi Hidup Dengan Berfikir Bentengi Dengan Berzikir
Tahun 2009 Gagasi Hidup Dengan Berfikir,
Bentengi Dengan Berzikir
Oleh,
Drs. Safwan Khayat M.Hum
Tulisan ini catatan kecil gugahan ruang perilaku kita di tahun 2008 agar lebih berbeda di tahun 2009 ini. Rangkaian perilaku kita dalam bertindak memutuskan sesuatu adakah dinafasi dengan berfikir dan berzikir sebagai kekuatan. Tanpa bermaksud menggurui pembaca, penulis mengajak pembaca bahwa selama ini kita lemah sekali menggandengkan dua kekuatan ini di setiap proses kehidupan ini.
Detik, menit, jam, hari, minggu dan bulan kita lalui dengan hayalan, harapan, kenangan, obsesi, tangisan dan canda tawa. Putaran detak jarum jam diiringi detak jatung kehidupan dalam menafasi seluruh aktifitas kita di tahun lalu. Semuanya telah berlalu di tahun 2008 dengan harapan di tahun 2009 muncul suatu perubahan hidup yang lebih baik, dinamis dan produktif.
Setiap kata yang terurai, janji yang terucap, arah kaki melangkah dan sikap yang diperbuat menjadi pengalaman yang tidak terlupakan. Andaikan kehidupan ini dituliskan ke dalam sebuah buku catatan harian, berjuta kata terangkai indah dan beratus anak pena habis terpakai di atas kumpulan lembaran kertas dengan ragam jenisnya. Bisa jadi, cerita indah tertulis lincah di atas jari jemari kegembiraan yang menggoreskan rangkaian obsesi dan prestasi yang di raih di tahun 2008. Tidak dipungkiri pula, sejumlah cerita buruk juga terkumpul dalam catatan itu di atas pena kelukaan yang penuh penyesalan, sumpah serapah, kegagalan dan entah apa lagi.
Kini semuanya menjadi cerita kenangan pahit, getir, manis dan bahagia masih belum lepas dari ingatan. Tahun 2009 harus menjadi milik kita, milik keluarga kita, milik sahabat kita dan milik semua orang tatkala awal pergantian tahun dilanjuti dengan putaran detik, menit, jam, hari, minggu dan bulan. Perubahan harus kita raih yakni dengan cara merubah pola berfikir dan orientasi diri merangkul kebersamaan. Di tahun ini pula, titian hidup diperkokoh dengan kekuatan fakultas fikir dan fakultas zikir di dalam diri. Dua fakultas ini harus berjalan beriringan tanpa boleh berjalan sendiri-sendiri.
Fakultas fikir yakni menata sistem berfikir logika sehat dengan perencanaan matang dengan memanfaatkan peluang dan merangkul seluruh potensi kemanusiaan. Tidak mungkin seseorang berhasil tanpa dukungan dan doa orang lain. Fakultas zikir adalah meneguhkan hati dengan rohani yang kuat, sejuk dan lembut dengan zikrullah agar kita lebih berjiwa besar serta mampu meredam emosi negatif yang kurang menguntungkan dalam hidup ini.
Kedua fakultas ini menjadi benteng diri tatkala menapaki rangkain agenda hidup di tahun baru ini. Di tengah situasi yang sulit dengan himpitan krisis ekonomi global, kedua fakultas ini dapat membantu kita dalam menyikapi setiap keadaan yang berhadapan dengan persoalan diri. Artinya, pembentukan fakultas fikir dapat membantu otak kiri dan kanan dalam mengolah data dan fakta guna menghasilkan sesuatu yang bermanfaat. Sementara fakultas zikir menyirami kekeringan rohani manusia yang dijadikan sebagai pilar keteguhan jiwa manakala berhadapan dengan situasi persoalan yang krusial (rumit). Berfikir dan berjiwa besar adalah implementasi dari dua kekuatan fakultas fikir dan zikir. Lakukanlah sesuatu yang berguna, jika kita ingin hidup berguna. Andaikan kita selalu berfikir dan berzikir, maka kita dijauhi dari hidup fakir dan sifat kikir.
Gagasi hidup dengan berfikir, akan membantu seluruh perencanaan hidup di muka bumi, tetapi bentengi pula dengan berzikir maka sesungguhnya hidup jauh lebih terarah menuju kebahagian hidup dunia dan akhirat.
Mengutip pesan pengetahuan dan moral yang diajarkan Rasulullah SAW dalam sabdanya yakni ;
Kalau engkau ingin hidup bahagia di dunia, maka gunakanlah fikir mu (ilmu). Jika engkau ingin bahagia di akhirat, maka gunakanlah zikir mu (ilmu). Jika engkau ingin hidup bahagia dunia dan akhirat, maka gandengkanlah fikir dan zikir mu.
Akhir catatan kelabu di penghujung 2008 isilah dengan awal catatan ceria di awal pergantian waktu di tahun 2009. Hapus hayalan yang menyesakkan otak dan dada, dengan menggantikannya dengan perencanaan dengan fikir dan zikir. Susunlah perencanaan diri dengan urutannya sesuai dengan skala prioritas dan batas kemampuan. Sebab, saat kini kita sedang melalui masa sulit krisis ekonomi global yang melingkari pendapatan ekonomi kita. Jauhi kepanikan, tetapi dekatkan ketenangan yakni dengan menggunakan pola fikir dan potensi zikir.
Tahun 2008 tidaklah berbeda dengan tahun 2009 jika kita lihat dari sisi ruang, waktu, hari, minggu dan bulan. Tetapi yang perlu kita bedakan yakni perencanaan diri yang terukur dengan pemanfaatan gagasan berfikir dan potensi berzikir. Di tahun 2009 ini pasti berlaku sama jika kita tidak merubah pola hidup dengan tahun lalu. Kesempatan tidak mungkin terulang andaikan kita tidak memeliharanya dan menggunakannya. Kesempatan tidak datang dengan sendiri, tetapi harus kita ciptakan dengan berbuat positif lalu datanglah kesempatan itu. Begitu pula pengalaman bukanlah musibah atau doa yang terkabul, tetapi pengalaman itu datang karena kelalaian atau keseriusan kita memanfaatkan kesempatan tadi.
Yang terpenting, kita bersyukur melalui tahapan pergantian waktu ini berjalan dengan mulus tanpa riak dan situasi yang menakutkan. Kedewasaan diri kita mulai tumbuh dengan perilaku yang positif sekalipun belum terwujud perubahan totalitas. Mulai hidup sederhana, karena keserdahaan bukanlah berarti kita miskin. Hiduplah dengan waktu dan rezeki yang tepat guna karena lebih terukur atas setiap hasil yang diperoleh. Adakah kita lebih sederhana melawan emosi hidup dengan bermegah-megah di tahun 2008 ? Bisakah kita bersabar sedikit memanfaatkan waktu dan rezeki secara terukur ? Apakah dominasi tindakan emosional lebih mengental daripada sikap rasional ? Mampukah kita menjaga prestasi dibandingkan prestise ? Inilah sekelumit urutan pertanyaan yang muncul dalam menyikapi pergantian tahun ini.
Bangsa kita bakal memasuki sejumlah aktifitas besar khusus pada ruang pentas politik. Disamping agenda krisis ekonomi, agenda politik seperti pemilihan umum (Pemilu) 2009 menjadi pesta politik paling akbar. Ada dua Pemilu yang kita hadapi yakni memilih wakil kita di parlemen dan memilih pimpinan nasional (Presiden dan Wakilnya). Gesekan dan konflik horizontal berpotensi terjadi dari para pendukung andaikan setiap perencanaan politik tidak melekatkan kekuatan fikir dan zikir. Diperhitungkan, tahun 2009 ini berlangsung seru karena adanya dua aktifitas politik yang paling akbar dengan kekuatan kontestan multi partai.
Kedewasaan berpolitik dengan kekuatan fikir dan zikir setidaknya menjaga ruang stabilisasi keamanan. Sikap politik yang tidak mengandalkan fikir dan zikir yang timbul hanyalah memaksakan kehendak atau cara-cara yang merusak tatanan hidup berbangsa. Begitu pula sikap menghamburkan uang demi mengejar jabatan dunia, padahal situasi krisis ekonomi saat ini hendaknya harus kita sikapi dengan kesederhaan dengan pemanfaat waktu dan rezeki tepat guna.
Penutup
Jika kita merasakan kegagalan, bukanlah membunuh seluruh obsesi kita yang masih panjang, tetapi kegagalan itu adalah obsesi tertunda yang memerlukan teknik hitungan matang.. Andaikan kita telah berhasil, jangan berpuas diri sebab kegagalan selalu mengintip kelalaian kita. Selamat tinggal tahun 2008 yang kini menjadi kenangan, selamat datang tahun 2009 menjadi awal masa perubahan. Kita gagasi setiap perencanaan dengan berfikir dengan dilapisi berzikir sebagai benteng diri. Mudah-mudahan di tahun baru ini ikut memperbaharui seluruh rangkaian pola hidup yang lebih positif dan produktif. Wallahu a’lam bishawwab !!
P. Siantar, 1 Januari 2009
P E N U L I S
Drs. Safwan Khayat M.Hum
* PENULIS, Alumnus SMA Neg I Medan, UMA dan Dosen UMA, Alumnus Pasca Sarjana USU, . Email; safwankhayat@yahoo.com
Krisis Global
Krisis Global, Kita Harus Bisa Menahan Diri
Oleh: Drs Safwan Khayat M.Hum
Puluhan, ribuan dan mungkin jutaan nasib tenaga kerja di belahan dunia hanya bisa pasrah andai saja perusahaan tempat mereka bekerja terkena bias krisis ekonomi global di penghujung tahun 2008 ini. Kinerja dan prestasi para buruh/karyawan mulai terganggu akibat hempasan krisis global yang melanda perekonomian masyarakat dunia. Hayalan, harapan dan kenyataan berkecamuk andaikan nasibnya harus kehilangan pekerjaan yang selama ini sebagai fondasi ekonomi. Pekerjaan hilang, maka hilang pula pendapatan. Pendapatan hilang, pupuslah harapan dan tujuan. Pekerjaan dan pendapatan hilang, terancamlah masa depan yang terbunuh oleh sebuah tekanan krisis global yang menyisakan kekecewaan. Pelaku usaha kewalahan karena tingginya beban pembiayaan yang tidak sebanding dengan penjualan. Untuk menjaga stabilisasi produksi, perusahaan melakukan penghematan dengan mengurangi biaya produksi dan perampingan karyawan.
Sekalipun harga minyak dunia menurun tajam, krisis global terus berlanjut dengan tingginya suku bunga perbankan. Pelaku usaha kesulitan menghitung akses permodalan karena ketidakmampuan untuk mencicil hutang dengan bunga yang membengkak. Untuk bertahan, cara yang biasa dilakukan dengan menata penghematan melalui upaya penekanan pembiayaan dan mengurangi jumlah karyawan.
Di dalam negeri, dampak krisis global mulai menunjukkan pengaruhnya terutama pada kondisi keuangan (moneter) dan daya tahan pembiayaan perusahaan. Nilai kurs mata uang rupiah semakin terancam hampir mendekati Rp. 12.000/dollar. Bahan baku sulit di dapat yang disertai melambungnya harga beli. Situasi mulai bergerak ke arah kepanikan tatkala beberapa perusahaan mulai mengurangi jumlah tenaga kerjanya dengan modus pemutusan hubungan kerja (PHK). Suasana ini terus berlanjut diikuti munculnya aksi demonstrasi buruh/karyawan yang menuntut hak pekerjanya.
Meski belum besar, gelombang aksi demonstrasi akibat dari krisis global mulai bermunculan. Pemerintah kini mulai mengambil langkah-langkah guna mengantisipasi meningkatnya gelombang aksi demonstran yang pernah terjadi di Negara kita di tahun 1997. Ancaman PHK terus menghantui buruh/karyawan yang bisa berakhir dengan tangisan duka, kekecewaan, kerawanan dan keamanan. Kehilangan pekerjaan dapat merusak dimensi kemanusiaan yang dapat bersikap brutal dan kasar.
Tulisan ini ungkapan secercah atas fenomena krisis global yang harus disikapi dengan kelembutan tanpa panik. Kelembutan biasanya berakhir dengan kedamaian yang menjadi modal sosial bagi kita untuk menjaga keamanan. Kepanikan pasti berakhir dengan kemarahan dan kekerasan yang berujung lahirnya tindakan menyimpang merusak tatanan nilai kemanusiaan.
Menahan Diri
Terasa sulit bagi setiap orang menerima sebuah kenyataan di luar jangkauan keinginan. Apalagi hancurnya usaha dan kehilangan pekerjaan menjadi beban mental yang cukup berat untuk ditanggung. Beratnya beban biaya hidup dan tingginya biaya pendidikan menjadi beban yang harus ditalangi tanpa bisa ditunda. Kepanikan wajar terjadi karena ruang harapan dan kenyataan bersinggungan tanpa saling melengkapi. Jika kita tidak mampu menahan diri, tindakan konyol semakin menambah daftar persoalan diri yang sepatutnya harus dijauhi.
Buat bangsa kita, krisis ekonomi bukanlah suasana yang baru. Beberapa fase krisis pernah kita lalui seperti tahun 1950-1960-an, 1997-1998 dan 2008 ini. Pada tahun 1950-1960-an, negara kita pernah mengalami resesi ekonomi setelah melepaskan diri dari penindasan bangsa kolonialis. Gejolak politik dan ekonomi merubah kondisi negara kita untuk bangkit mengisi kemerdekaan yang terbelenggu oleh penjajahan. Situasi bangsa cukup kacau, ekonomi sulit, instabilisasi terjadi dan ancaman disintegrasi mendesak kesatuan bangsa kita. Belum lagi selesai kasus internal politik akibat gerakan sparatis dengan sejumlah aksi pemberontakan, aksi demonstrasi terus bermunculan hingga meriuhkan situasi sosial bangsa ini.
Di tahun 1997-1998 pasca jatuhnya regim Orde Baru, suasana yang sama juga terjadi. Krisis ekonomi juga melanda bangsa kita yang berujung PHK besar-besaran, demonstrasi massal dan reformasi politik. Instabilisasi juga terjadi dan ancaman disintegrasi kembali terulang yang dipicu kuatnya sentiment politik-ekonomi terhadap regim yang sedang berkuasa. Keutuhan negara kembali dipertaruhkan yang hancur lebur oleh situasi sosial yang panik, brutal dan anarkis. Korban jiwa berjatuhan ditambah lagi hancurnya sejumlah bangunan fasilitas umum yang di rusak oleh oknum yang tidak bertanggung jawab.
Dari dua peristiwa ini (1950-1960-an & 1997-1998) harus menjadi pelajaran bagi kita dalam menyikapi krisis global di tahun 2008 ini. Bangsa kita jangan mengulangi suatu tindakan yang merugikan diri sendiri. Sikap menahan diri menjadi perilaku yang paling bijaksana untuk tetap menjaga hati dan fikiran memahami situasi krisis global ini. Sikap menahan diri ini dapat dilakukan dengan berbagai cara diantaranya; menjaga emosi dengan selalu menyandingkan fikiran dan hati, melakukan penghematan pengeluaran ekonomi, membatasi pergaulan bebas yang menyimpang, meneguhkan ibadah yang kuat dengan kegiatan keagamaan dan selalu menoleh pengalaman masa lalu dengan mengambil manfaat.
Menahan diri berarti kita ikut menjaga situasi keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas) yang paling penting kita jaga. Tindakan brutalisme yang menjurus perilaku anarkis adalah wujud perilaku sia-sia yang merusak tatanan interaksi dalam ikatan sosial. Pengalaman masa lalu menjadi pelajaran penting bahwa hidup dalam suasana mencekam jauh dari ketenangan dan kedamaian. Bagi kita yang pernah merasakan dampak krisis ekonomi jangan mengulang sejarah kelam yang pernah singgah dalam catatan sejarah bangsa ini.
Krisis global bukanlah akhir dari kehidupan. Krisis global adalah hasil dari persekongkolan yang serakah menumpuk kekayaan dengan mengorbankan nilai fundamental kemanusiaan. Sejumlah kalangan yang mempunyai kekuasaan dan kekuatan kapital (keuangan) dengan menganut azas ekonomi global menindas fondasi ekonomi dunia yang sepatutnya tidak perlu terjadi. Perilaku ekonomi kapital inilah yang menciptakan suasana menjadi buruk terutama terganggunya sistem ekonomi moneter, goncangan bursa saham dan rusaknya lalu lintas perbankan.
Perilaku solidaritas menjadi sikap yang paling santun kita lakukan dengan menjaga harmonisasi komunikasi dengan segenap elemen masyarakat. Kita mulai lebih waspada atas segala aksi yang menjurus makar yang merusak tatanan stabilisasi keamanan bangsa ini. Berfikir positif, berjiwa besar dan bertindak akomodatif adalah perilaku yang paling sesuai dengan selalu bersikap hidup hemat, cermat dan tepat. Mari kita pertahankan keutuhan, persatuan dan kesatuan sekalipun krisis global terus mencekam ekonomi bangsa kita.
Oleh: Drs Safwan Khayat M.Hum
Puluhan, ribuan dan mungkin jutaan nasib tenaga kerja di belahan dunia hanya bisa pasrah andai saja perusahaan tempat mereka bekerja terkena bias krisis ekonomi global di penghujung tahun 2008 ini. Kinerja dan prestasi para buruh/karyawan mulai terganggu akibat hempasan krisis global yang melanda perekonomian masyarakat dunia. Hayalan, harapan dan kenyataan berkecamuk andaikan nasibnya harus kehilangan pekerjaan yang selama ini sebagai fondasi ekonomi. Pekerjaan hilang, maka hilang pula pendapatan. Pendapatan hilang, pupuslah harapan dan tujuan. Pekerjaan dan pendapatan hilang, terancamlah masa depan yang terbunuh oleh sebuah tekanan krisis global yang menyisakan kekecewaan. Pelaku usaha kewalahan karena tingginya beban pembiayaan yang tidak sebanding dengan penjualan. Untuk menjaga stabilisasi produksi, perusahaan melakukan penghematan dengan mengurangi biaya produksi dan perampingan karyawan.
Sekalipun harga minyak dunia menurun tajam, krisis global terus berlanjut dengan tingginya suku bunga perbankan. Pelaku usaha kesulitan menghitung akses permodalan karena ketidakmampuan untuk mencicil hutang dengan bunga yang membengkak. Untuk bertahan, cara yang biasa dilakukan dengan menata penghematan melalui upaya penekanan pembiayaan dan mengurangi jumlah karyawan.
Di dalam negeri, dampak krisis global mulai menunjukkan pengaruhnya terutama pada kondisi keuangan (moneter) dan daya tahan pembiayaan perusahaan. Nilai kurs mata uang rupiah semakin terancam hampir mendekati Rp. 12.000/dollar. Bahan baku sulit di dapat yang disertai melambungnya harga beli. Situasi mulai bergerak ke arah kepanikan tatkala beberapa perusahaan mulai mengurangi jumlah tenaga kerjanya dengan modus pemutusan hubungan kerja (PHK). Suasana ini terus berlanjut diikuti munculnya aksi demonstrasi buruh/karyawan yang menuntut hak pekerjanya.
Meski belum besar, gelombang aksi demonstrasi akibat dari krisis global mulai bermunculan. Pemerintah kini mulai mengambil langkah-langkah guna mengantisipasi meningkatnya gelombang aksi demonstran yang pernah terjadi di Negara kita di tahun 1997. Ancaman PHK terus menghantui buruh/karyawan yang bisa berakhir dengan tangisan duka, kekecewaan, kerawanan dan keamanan. Kehilangan pekerjaan dapat merusak dimensi kemanusiaan yang dapat bersikap brutal dan kasar.
Tulisan ini ungkapan secercah atas fenomena krisis global yang harus disikapi dengan kelembutan tanpa panik. Kelembutan biasanya berakhir dengan kedamaian yang menjadi modal sosial bagi kita untuk menjaga keamanan. Kepanikan pasti berakhir dengan kemarahan dan kekerasan yang berujung lahirnya tindakan menyimpang merusak tatanan nilai kemanusiaan.
Menahan Diri
Terasa sulit bagi setiap orang menerima sebuah kenyataan di luar jangkauan keinginan. Apalagi hancurnya usaha dan kehilangan pekerjaan menjadi beban mental yang cukup berat untuk ditanggung. Beratnya beban biaya hidup dan tingginya biaya pendidikan menjadi beban yang harus ditalangi tanpa bisa ditunda. Kepanikan wajar terjadi karena ruang harapan dan kenyataan bersinggungan tanpa saling melengkapi. Jika kita tidak mampu menahan diri, tindakan konyol semakin menambah daftar persoalan diri yang sepatutnya harus dijauhi.
Buat bangsa kita, krisis ekonomi bukanlah suasana yang baru. Beberapa fase krisis pernah kita lalui seperti tahun 1950-1960-an, 1997-1998 dan 2008 ini. Pada tahun 1950-1960-an, negara kita pernah mengalami resesi ekonomi setelah melepaskan diri dari penindasan bangsa kolonialis. Gejolak politik dan ekonomi merubah kondisi negara kita untuk bangkit mengisi kemerdekaan yang terbelenggu oleh penjajahan. Situasi bangsa cukup kacau, ekonomi sulit, instabilisasi terjadi dan ancaman disintegrasi mendesak kesatuan bangsa kita. Belum lagi selesai kasus internal politik akibat gerakan sparatis dengan sejumlah aksi pemberontakan, aksi demonstrasi terus bermunculan hingga meriuhkan situasi sosial bangsa ini.
Di tahun 1997-1998 pasca jatuhnya regim Orde Baru, suasana yang sama juga terjadi. Krisis ekonomi juga melanda bangsa kita yang berujung PHK besar-besaran, demonstrasi massal dan reformasi politik. Instabilisasi juga terjadi dan ancaman disintegrasi kembali terulang yang dipicu kuatnya sentiment politik-ekonomi terhadap regim yang sedang berkuasa. Keutuhan negara kembali dipertaruhkan yang hancur lebur oleh situasi sosial yang panik, brutal dan anarkis. Korban jiwa berjatuhan ditambah lagi hancurnya sejumlah bangunan fasilitas umum yang di rusak oleh oknum yang tidak bertanggung jawab.
Dari dua peristiwa ini (1950-1960-an & 1997-1998) harus menjadi pelajaran bagi kita dalam menyikapi krisis global di tahun 2008 ini. Bangsa kita jangan mengulangi suatu tindakan yang merugikan diri sendiri. Sikap menahan diri menjadi perilaku yang paling bijaksana untuk tetap menjaga hati dan fikiran memahami situasi krisis global ini. Sikap menahan diri ini dapat dilakukan dengan berbagai cara diantaranya; menjaga emosi dengan selalu menyandingkan fikiran dan hati, melakukan penghematan pengeluaran ekonomi, membatasi pergaulan bebas yang menyimpang, meneguhkan ibadah yang kuat dengan kegiatan keagamaan dan selalu menoleh pengalaman masa lalu dengan mengambil manfaat.
Menahan diri berarti kita ikut menjaga situasi keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas) yang paling penting kita jaga. Tindakan brutalisme yang menjurus perilaku anarkis adalah wujud perilaku sia-sia yang merusak tatanan interaksi dalam ikatan sosial. Pengalaman masa lalu menjadi pelajaran penting bahwa hidup dalam suasana mencekam jauh dari ketenangan dan kedamaian. Bagi kita yang pernah merasakan dampak krisis ekonomi jangan mengulang sejarah kelam yang pernah singgah dalam catatan sejarah bangsa ini.
Krisis global bukanlah akhir dari kehidupan. Krisis global adalah hasil dari persekongkolan yang serakah menumpuk kekayaan dengan mengorbankan nilai fundamental kemanusiaan. Sejumlah kalangan yang mempunyai kekuasaan dan kekuatan kapital (keuangan) dengan menganut azas ekonomi global menindas fondasi ekonomi dunia yang sepatutnya tidak perlu terjadi. Perilaku ekonomi kapital inilah yang menciptakan suasana menjadi buruk terutama terganggunya sistem ekonomi moneter, goncangan bursa saham dan rusaknya lalu lintas perbankan.
Perilaku solidaritas menjadi sikap yang paling santun kita lakukan dengan menjaga harmonisasi komunikasi dengan segenap elemen masyarakat. Kita mulai lebih waspada atas segala aksi yang menjurus makar yang merusak tatanan stabilisasi keamanan bangsa ini. Berfikir positif, berjiwa besar dan bertindak akomodatif adalah perilaku yang paling sesuai dengan selalu bersikap hidup hemat, cermat dan tepat. Mari kita pertahankan keutuhan, persatuan dan kesatuan sekalipun krisis global terus mencekam ekonomi bangsa kita.
Duka Mangkubumi dan Perubahan Kaum
Di malam yang hening dan sunyi dengan nyilur angin berhembus menusuk sum-sum nan dingin terbesit renyuhnya hati merasakan larutan duka saudara kita pada tragedi Mangkubumi. Di malam itu selepas menghambakan diri kepada sang Khaliq Tuhan Yang Maha Agung, aliran darah yang setitik, rambut yang sehelai menyatu dalam detak jantung dan fikiran tentang nasib masa depan mereka. Tragedi itu berakhir dengan kesedihan, kepedihan dan kepasrahan yang bermuara dengan sebutan Duka Mangkubumi.
Duka Mangkubumi menjadi duka kemanusiaan yang dirampas kejamnya si Jago Merah melahap dengan laparnya dengan membakar harta, cerita, cinta, angan dan masa depan. Gumpalan api yang lapar hanya menyisakan bangkai bangunan dan puing-puing kedukaan yang telah meluluhlantakkan area kawasan. Merahnya api seketika menghitamkan kawasan itu tanpa memperdulikan tatapan sedih dan ratapan pedih.
Tragedi ini adalah Duka Mangkubumi yang harus kita sambut dengan sikap kemanusiaan melalui uluran tangan yang ikhlas guna menjemput perhatian, semangat dan kesetiakawanan. Ratusan bahkan miliaran harta benda hilang, tetapi triliunan cita, harapan dan masa depan ikut terbakar. Masa depan suram, pendidikan anak terancam dan kegundahan mulai mencekam.
Di atas pusaran sajadah ke dua tangan ikut bertengadah dengan munajat doa agar dapat menyelimuti tidur mereka di malam itu. Cucuran air mata ikut meramaikan munajat doa kepada Tuhan Yang Maha Penyayang atas hamba-hamba-Nya. Ternyata, munajat doa tidak cukup menyelimuti nyenyaknya tidur mereka, sebab masih ada desakan lain yang harus dilakukan guna menghapus Duka Mangkubumi. Lalu kedua tangan ini meraih sebatang pena yang bergulir begitu cepat menetaskan goresan gagasan agar kita harus berubah.
Putaran jarum jam berpacu dengan cepatnya goresan pena sambil melemparkan secercah pertanyaan tentang tragedi itu. Apakah Duka Mangkubumi terbakar karena ditentukan manusia atau ketentuan Tuhan ? Bagaimana nasib mereka dan anak-anaknya? Apakah Duka Mangkubumi harus berakhir dengan seperti ini? Ataukah masih menyusul duka-duka berikutnya ?
Duka Mangkubumi adalah fenomena nyata bahwa kawasan padat peduduk ini menjadi sorotan bagi siapa saja. Daftar pertanyaan di atas hanya sebatas tajamnya pena mengejar fenomena itu tanpa bermaksud menimbulkan prasangka. Tetapi kita harus berfikir jernih bahwa setiap kesempitan pasti ada kelapangan, setiap kesulitan selalu ada jalan kemudahan, dan di antara itu pula segala sesuatu urusan hanya kembali kepada Tuhan Pencipta Alam.
Amal kebajikan harus kita rajut dalam ikatan persaudaraan dengan membangun jembatan hati di atas pilar kesetiakawanan. Jembatan hati menjadi lintasan kehidupan dalam melangkah dengan sebuah keniscayaan bahwa segala sesuatu hanyalah pinjaman yang dititipkan Tuhan kepada umat manusia. Duka Mangkubumi menjadi bagian dari proses sirkulasi kehidupan yang dinyatakan dalam ketentuan Iradat Tuhan bahwa segala sesuatu pasti kembali kepada-Nya. Sesuatu itu adalah apa saja yang kita miliki, rasakan dan nyatakan akan dituntut pertanggungjawaban dalam sebuah sidang akbar kemanusiaan pada akhirnya nanti. Perbuatan baik dan buruk akan di balas menurut kadarnya, begitu pula kezhaliman pasti dijawab Tuhan dengan kemurkaan. Na udzubillahi min dzalik!!
“Bagi orang yang melakukan suatu perbuatan baik, maka Tuhan membalas dengan yang baik, bagi mereka melakukan perbuatan buruk sekalipun mereka memiliki harta dan kekuasaan, maka mereka pasti menebus dirinya. Orang seperti ini Tuhan siapkan perhitungan yang buruk dan tempat kediaman mereka neraka Jahanam. Seburuk-buruk tempat adalah neraka Jahanam. (QS. Ar Radu; 18).
Perubahan Suatu Kaum
Kita perlu perubahan ke arah yang lebih baik guna mengurangi sifat ego diri yang terkadang membuat kita gagal dalam hidup. Perubahan itu yakni perubahan atas pola tindak, landasan berfikir, teknik pengambilan keputusan dan pola kepemimpinan. Perubahan itu harus syarat dengan sisi kemanusiaan sebagai wujud perilaku hukum berkeTuhanan dengan menjaga kemaslahatan alam. Jika kita gunakan Firman Tuhan dalam kitab suci yang Agung, perubahan itu sendiri sangat bergantung diri manusia.
“Tuhan tidak akan merubah nasib suatu kaum, kecuali kaum itu yang melakukan perubahan. Apabila Tuhan menghendaki situasi buruk (kacau) kepada kaum itu, maka tidak ada yang dapat menolaknya, tidak ada yang bisa berlindung dari Dia”.(QS Ar Radu; 11)
“Sesungguhnya Allah tidak merubah suatu nikmat yang telah dianugrahkanNya kepada suatu kaum, tetapi kaum itu yang merubah nikmat yang ada pada dirinya sendiri”. (QS Al Anfal 53)
Perubahan suatu proses meninggalkan atau melepaskan suatu keadaan menuju target-target kehidupan/perjuangan. Target kehidupan itu lebih menitikberatkan pada suatu ruang kehidupan yang lebih akomodatif, adaptif dan produktif. Namun tetap saja dalam prosesnya, perubahan tidak bisa lepas dari pengorbanan dan dikorbankan.
Duka Mangkubumi memberi inspirasi atas rangkaian peristiwa yang ada bahwa nafas perubahan selalu menyita waktu untuk mengkaji haruskah ada pengrbanan atau dikorbankan. Duka kemanusiaan itu adalah sample dari nafas perubahan yang berujung pada ruang kenyataan tatkala tujuan, harapan dan kenyataan bersinggungan. Apakah Duka Mangkubumi menjadi awal dari perubahan kaum yang ditentukan manusia atau ketentuan Tuhan ?
Dasar dari perubahan adalah nilai kesadaran yang bersikukuh melepaskan pola lama menuju arah yang positif. Kesadaran ini begitu perlu sebab menjadi pilar diri menjemput perubahan. Kesadaran melahirkan perilaku positif paling ampuh menggagalkan perbuatan sia-sia. Agama juga mengajarkan kita bahwa tanpa kesadaran maka perbuatan merugi lagi sia-sia bagi diri, keluarga, masyarakat, bangsa dan agama.
Duka Mangkubumi merupakan tragedi yang berujung dengan luka kepedihan. Luka kepedihan yang larut dapat menghambat perubahan kaum. Caranya kita harus mengobati dengan membalut motivasi, sabar, ikhlas dan nilai taqwa bahwa cobaan ini juga bagian dari gerakan perubahan kaum. Cukupkah itu, tentu tidak !! Kebijakan juga mempercepat perubahan dengan landasan kemanusiaan pula. Rehabilitasi, renovasi dan rekondisi lokasi kejadian harus syarat pula dengan nilai kemanusiaan yang tidak bisa ditawar. Jika tidak, Duka Mangkubumi pasti terus tanpa memperhatikan tujuan perubahan yang diharapkan mereka.
Mari kita ganti duka dengan suka, luka dengan bahagia, durja dengan candatawa. Mangkubumi harus kembali tersenyum melalui nafas perubahan dengan meninggalkan masa tekanan dengan masa pengembangan. Perubahan yang beradab menjadi cita-cita, sebab perubahanlah yang mampu menjemput kehidupan yang lebih beradab pula. Tetapi yang terpenting, perubahan kaum yang berkemanusiaan tidak akan bisa berdiri tegak tanpa dilandasi sikap berkeTuhanan. Wallahu a’lam bi shawab..!!
P. Siantar, 24 Nov 2008
Drs. Safwan Khayat M. Hum
Penulis, Alumni dan Dosen UMA, Alumni Pascasarja USU Email; safwankhayat@yahoo.com dan http://safwankhayat.blogspot.com
Di malam yang hening dan sunyi dengan nyilur angin berhembus menusuk sum-sum nan dingin terbesit renyuhnya hati merasakan larutan duka saudara kita pada tragedi Mangkubumi. Di malam itu selepas menghambakan diri kepada sang Khaliq Tuhan Yang Maha Agung, aliran darah yang setitik, rambut yang sehelai menyatu dalam detak jantung dan fikiran tentang nasib masa depan mereka. Tragedi itu berakhir dengan kesedihan, kepedihan dan kepasrahan yang bermuara dengan sebutan Duka Mangkubumi.
Duka Mangkubumi menjadi duka kemanusiaan yang dirampas kejamnya si Jago Merah melahap dengan laparnya dengan membakar harta, cerita, cinta, angan dan masa depan. Gumpalan api yang lapar hanya menyisakan bangkai bangunan dan puing-puing kedukaan yang telah meluluhlantakkan area kawasan. Merahnya api seketika menghitamkan kawasan itu tanpa memperdulikan tatapan sedih dan ratapan pedih.
Tragedi ini adalah Duka Mangkubumi yang harus kita sambut dengan sikap kemanusiaan melalui uluran tangan yang ikhlas guna menjemput perhatian, semangat dan kesetiakawanan. Ratusan bahkan miliaran harta benda hilang, tetapi triliunan cita, harapan dan masa depan ikut terbakar. Masa depan suram, pendidikan anak terancam dan kegundahan mulai mencekam.
Di atas pusaran sajadah ke dua tangan ikut bertengadah dengan munajat doa agar dapat menyelimuti tidur mereka di malam itu. Cucuran air mata ikut meramaikan munajat doa kepada Tuhan Yang Maha Penyayang atas hamba-hamba-Nya. Ternyata, munajat doa tidak cukup menyelimuti nyenyaknya tidur mereka, sebab masih ada desakan lain yang harus dilakukan guna menghapus Duka Mangkubumi. Lalu kedua tangan ini meraih sebatang pena yang bergulir begitu cepat menetaskan goresan gagasan agar kita harus berubah.
Putaran jarum jam berpacu dengan cepatnya goresan pena sambil melemparkan secercah pertanyaan tentang tragedi itu. Apakah Duka Mangkubumi terbakar karena ditentukan manusia atau ketentuan Tuhan ? Bagaimana nasib mereka dan anak-anaknya? Apakah Duka Mangkubumi harus berakhir dengan seperti ini? Ataukah masih menyusul duka-duka berikutnya ?
Duka Mangkubumi adalah fenomena nyata bahwa kawasan padat peduduk ini menjadi sorotan bagi siapa saja. Daftar pertanyaan di atas hanya sebatas tajamnya pena mengejar fenomena itu tanpa bermaksud menimbulkan prasangka. Tetapi kita harus berfikir jernih bahwa setiap kesempitan pasti ada kelapangan, setiap kesulitan selalu ada jalan kemudahan, dan di antara itu pula segala sesuatu urusan hanya kembali kepada Tuhan Pencipta Alam.
Amal kebajikan harus kita rajut dalam ikatan persaudaraan dengan membangun jembatan hati di atas pilar kesetiakawanan. Jembatan hati menjadi lintasan kehidupan dalam melangkah dengan sebuah keniscayaan bahwa segala sesuatu hanyalah pinjaman yang dititipkan Tuhan kepada umat manusia. Duka Mangkubumi menjadi bagian dari proses sirkulasi kehidupan yang dinyatakan dalam ketentuan Iradat Tuhan bahwa segala sesuatu pasti kembali kepada-Nya. Sesuatu itu adalah apa saja yang kita miliki, rasakan dan nyatakan akan dituntut pertanggungjawaban dalam sebuah sidang akbar kemanusiaan pada akhirnya nanti. Perbuatan baik dan buruk akan di balas menurut kadarnya, begitu pula kezhaliman pasti dijawab Tuhan dengan kemurkaan. Na udzubillahi min dzalik!!
“Bagi orang yang melakukan suatu perbuatan baik, maka Tuhan membalas dengan yang baik, bagi mereka melakukan perbuatan buruk sekalipun mereka memiliki harta dan kekuasaan, maka mereka pasti menebus dirinya. Orang seperti ini Tuhan siapkan perhitungan yang buruk dan tempat kediaman mereka neraka Jahanam. Seburuk-buruk tempat adalah neraka Jahanam. (QS. Ar Radu; 18).
Perubahan Suatu Kaum
Kita perlu perubahan ke arah yang lebih baik guna mengurangi sifat ego diri yang terkadang membuat kita gagal dalam hidup. Perubahan itu yakni perubahan atas pola tindak, landasan berfikir, teknik pengambilan keputusan dan pola kepemimpinan. Perubahan itu harus syarat dengan sisi kemanusiaan sebagai wujud perilaku hukum berkeTuhanan dengan menjaga kemaslahatan alam. Jika kita gunakan Firman Tuhan dalam kitab suci yang Agung, perubahan itu sendiri sangat bergantung diri manusia.
“Tuhan tidak akan merubah nasib suatu kaum, kecuali kaum itu yang melakukan perubahan. Apabila Tuhan menghendaki situasi buruk (kacau) kepada kaum itu, maka tidak ada yang dapat menolaknya, tidak ada yang bisa berlindung dari Dia”.(QS Ar Radu; 11)
“Sesungguhnya Allah tidak merubah suatu nikmat yang telah dianugrahkanNya kepada suatu kaum, tetapi kaum itu yang merubah nikmat yang ada pada dirinya sendiri”. (QS Al Anfal 53)
Perubahan suatu proses meninggalkan atau melepaskan suatu keadaan menuju target-target kehidupan/perjuangan. Target kehidupan itu lebih menitikberatkan pada suatu ruang kehidupan yang lebih akomodatif, adaptif dan produktif. Namun tetap saja dalam prosesnya, perubahan tidak bisa lepas dari pengorbanan dan dikorbankan.
Duka Mangkubumi memberi inspirasi atas rangkaian peristiwa yang ada bahwa nafas perubahan selalu menyita waktu untuk mengkaji haruskah ada pengrbanan atau dikorbankan. Duka kemanusiaan itu adalah sample dari nafas perubahan yang berujung pada ruang kenyataan tatkala tujuan, harapan dan kenyataan bersinggungan. Apakah Duka Mangkubumi menjadi awal dari perubahan kaum yang ditentukan manusia atau ketentuan Tuhan ?
Dasar dari perubahan adalah nilai kesadaran yang bersikukuh melepaskan pola lama menuju arah yang positif. Kesadaran ini begitu perlu sebab menjadi pilar diri menjemput perubahan. Kesadaran melahirkan perilaku positif paling ampuh menggagalkan perbuatan sia-sia. Agama juga mengajarkan kita bahwa tanpa kesadaran maka perbuatan merugi lagi sia-sia bagi diri, keluarga, masyarakat, bangsa dan agama.
Duka Mangkubumi merupakan tragedi yang berujung dengan luka kepedihan. Luka kepedihan yang larut dapat menghambat perubahan kaum. Caranya kita harus mengobati dengan membalut motivasi, sabar, ikhlas dan nilai taqwa bahwa cobaan ini juga bagian dari gerakan perubahan kaum. Cukupkah itu, tentu tidak !! Kebijakan juga mempercepat perubahan dengan landasan kemanusiaan pula. Rehabilitasi, renovasi dan rekondisi lokasi kejadian harus syarat pula dengan nilai kemanusiaan yang tidak bisa ditawar. Jika tidak, Duka Mangkubumi pasti terus tanpa memperhatikan tujuan perubahan yang diharapkan mereka.
Mari kita ganti duka dengan suka, luka dengan bahagia, durja dengan candatawa. Mangkubumi harus kembali tersenyum melalui nafas perubahan dengan meninggalkan masa tekanan dengan masa pengembangan. Perubahan yang beradab menjadi cita-cita, sebab perubahanlah yang mampu menjemput kehidupan yang lebih beradab pula. Tetapi yang terpenting, perubahan kaum yang berkemanusiaan tidak akan bisa berdiri tegak tanpa dilandasi sikap berkeTuhanan. Wallahu a’lam bi shawab..!!
P. Siantar, 24 Nov 2008
Drs. Safwan Khayat M. Hum
Penulis, Alumni dan Dosen UMA, Alumni Pascasarja USU Email; safwankhayat@yahoo.com dan http://safwankhayat.blogspot.com
Langganan:
Postingan (Atom)